Hikmah Qurban

Qurban berasal dari kata qaraba yang artinya dekat, karena memang sesungguhnya qurban adalah jalan bagi setiap manusia untuk dekat dengan Allah Swt. Tidak bisa seorang menjadi hamba yang dekat dengan Allah, tanpa qurban dan pengurbanan. Karena qurban adalah dasar dari semua pengabdian kita kepada Allah.

Semua ibadah kita sesungguhnya didasari dengan nilai-nilai pengurbanan. Contoh ketika shalat, adzan memanggil. Kita mengurbankan waktu kita beberapa menit. Kadang bukan hanya waktu, tetapi juga keasyikan kita sedang bekerja, belajar, bercengkrama dengan keluarga atau teman, nonton tv atau main game. Begitu juga ketika kita berpuasa, sesungguhnya kita juga mengurbankan diri kita dalam keadaan lapar, sementara orang lain makan enak. Ketika kita shalat malam, kita juga mengurbankan diri kita yang sedang enak tidur, untuk bangun berdiri menghadap Allah Swt. Bahkan begitu pula ketika kita menjalani perintah Allah untuk syukur, ikhlas, menahan marah, tidak kikir, tidak iri dengki serta sabar dan tawakal menghadapi segala persoalan kehidupan. Semua ibadah kepada Allah hakikatnya adalah sebuah pengurbanan kepadaNya, sehingga saat memerintahkan Fathimah, anaknya, untuk menyaksikan hewan qurbannya disembelih Nabi Saw juga memerintahkan untuk mengatakan: “Innashshalati wanusuki wamahyaya wamamati lillahirrabbil alamin.” Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku untuk Tuhan seluruh alam.

Kesadaran bahwa qurban adalah dasar dari seluruh bentuk pengabdian kita kepada Allah inilah yang ingin dibangun dan diingatkan dalam bentuk ritual ibadah qurban ini. Bahkan saking besarnya urusan qurban ini, ritus ini dilekatkan denga ritual yang besar, yaitu Haji dan ditempatkan dalam sebuah hari raya.

Qurban bukan sekedar sedekah. Karenanya berbeda dengan zakat fitrah, qurban tidak dapat diuangkan. Dengan melakukan penyembelihan binatang ternak, Allah Swt sesungguhnya sedang mengingatkan sebuah urusan penting dan fundamental dalam menghamba kepada-Nya.

Urusan manusia dalam beragama sesungguhnya sederhana yaitu bagaimana ia mengutamakan Tuhannya sehingga terkalahkanlah tarikan hawa nafsunya. Perjuangan-perjuangan mengutamakan Tuhan inilah didalamnya berisi pengurbanan demi pengurbanan.

Hawa nafsu dalam al-Quran disimbolisasi dengan hewan (ternak). Bagaimana orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya dikatakan bahwa mereka sesat, bahkan lebih sesat dari hewan ternak. (QS 25:43-44). Karenanya bukan sebuah kebetulan, ketika semua nabi-nabi adalah penggembala domba, karena sesungguhnya hal tersebut adalah penggambaran bahwa mereka adalah orang-orang yang mampu menggembalakan dengan baik domba-domba hawa nafsu mereka. Nabi Saw yang bersabda, “Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi kecuali menjadi penggembala terlebih dahulu“.

Setiap manusia dalam berjalan mendekat kepada Allah, sesungguhnya adalah proses menggembalakan secara terus menerus dari waktu ke waktu ternak-ternak hawa nafsu mereka. Sebagaimana perilaku ternak, ada yang lari ke kanan, ada yang lari ke kiri, berhenti ketika melihat rumput-rumput yang hijau, bertarung memperebutkan betina, dan lain sebagainya. Inilah jihadul akbar, jihad terbesar. Penyembelihan qurban sesungguhnya adalah sebuah ritual “pengingat” bahwa kita harus selalu berqurban atas keinginan-keinginan hawa nafsu kita agar dapat menjadi hamba yang dekat kepada Allah.

Pentingnya mengingati urusan qurban dalam kehidupan kita ini, sampai-sampai Rasulullah Saw pernah mewajibkan setiap keluarga untuk berqurban setiap tahun. Namun dikarenakan melihat kemampuan ummatnya, Rasulullah Saw hanya mengecam mereka yang mampu namun tidak berqurban dengan mengatakan “jangan sekali-kali mendekati tempat shalat kami”.

Menyelami hakikat ritual qurban, dihantarkan dengan sedemikian indah oleh Rasulullah Saw. Sepuluh hari sebelum berqurban, kita disunnahkan untuk tidak mencukur rambut, bulu, dan memotong kuku. Orang yang terbiasa hidup rapih dan tertib, akan merasakan impresi kurban yang lebih mendalam ketika ia tidak dibolehkan mencukur rambut dan kuku dalam waktu 10 hari.

Nabi Saw juga menganjurkan untuk berqurban dengan hewan qurban yang paling baik. Tidak boleh yang bercacat. Hal ini menceritakan bahwa kita harus mengurbankan apa-apa yang kita senangi, sukai, dan cintai. Ada orang-orang yang sangat menyenangi makan yang berwarna-warni, dengan qurban sesungguhnya sedang diingatkan untuk mengurbankan keinginan makan yang berwarna warni. Ada orang-orang yang menyukai tidur dan bermalas-malasan, dengan qurban sesungguhnya sedang diingatkan untuk menguranginya. Apalagi kecintaan dan kegemaran kita yang bersangatan kepada harta benda, kehormatan diri, wanita (lawan jenis), dan sebagainya. Ini semua harus diqurbankan!

Anjuran yang tidak kalah penting dalam ritual qurban adalah menyaksikan hewan qurban disembelih, dengan mengatakan: “Innashalati wanusuki wamahyaya wamamati lillahirabbil alamin, laa syarikalahu, wa ana minal muslimin” (sesungguhnya shalatku, ibadahku, kehidupanku dan kematianku untuk Tuhan Semesta Alam. Tidak ada sekutu untuk-Mu. Dan sungguh aku ini hamba yang berserah diri kepada-Mu). Saat menyaksikan penyembelihan hewan qurban, Nabi Saw mengajarkan kepada kita untuk “mengakadkan kembali” bahwa kita akan mengurbankan seluruh aspek kehidupan dan kedirian kita untuk Allah Swt.

Sunnah lain yang diajarkan oleh Rasulullah Saw adalah memakan sebagian hewan yang diqurbankan, dan membagikan sebagian yang lain kepada kerabat dan fakir miskin. Bahkan dalam sebuah hadits diceritakan Rasulullah Saw selalu memakan jantung hewan qurbannya. Dengan ini ada 2 aspek yang disentuh, yang pertama adalah sebuah kesadaran yang panjang tentang qurban dengan memasukkan pengurbanan kita ke dalam diri kita, yang kedua adalah sebuah doa dan pengharapan agar dengan memasukkan daging qurban kita ke dalam diri kita, akan menyebabkan seluruh tubuh kita menjadi mudah untuk selalu diajak berqurban dalam seluruh aspek kehidupan dan kedirian kita kepada Allah.

Besarnya hikmah urusan ini, pantaslah jika Rasulullah Saw berkata: “Tidaklah anak Adam melakukan suatu amalan pada Idul Adha yang lebih dicintai Allah daripada mengalirkan darah (qurban)”. (HR Tirmidzi) “Tidak ada penggunaan dirham (uang) yang lebih utama pada hari nahar (Idul Adha) selain untuk berqurban”. (HR Hakim)

Semoga Allah menerima pengurbanan kita selama ini. Semoga dengan qurban kita, Allah menolong kita menjauhkan diri kita dari keburukan-keburukan hawa nafsu diri kita. Semoga qurban kita tahun ini lebih bermakna dari qurban-qurban sebelumnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: