Hakikat Niat

Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang itu. Maka Allah mengampuni siap yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. 2:284)

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. (QS. 50:16-17)

Katakanlah: “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui”. Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi… (QS. 3:29-30)

Bahkan mereka telah menetapkan satu tipu daya, maka sesungguhnya Kami akan membalas tipu daya mereka. Apakah mereka mengira, bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka. (QS. 43:79-80)

Allah berfirman:”Bukankah sudah Kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan”. (QS. 2:33)

Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati. Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui; dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui (QS. 67:13-14)

Sesungguhnya Allah mengetahui yang tersembunyi di langit dan di bumi.Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati. (QS. 35:38)

Dia mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati. (QS. 64:4)

Bahwa segala amal perbuatan itu dengan niat. Dan bagi setiap manusia itu apa yang diniatkannya. Maka siapa yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya kepada Allah dan rasulNya. Dan siapa yang hijrahnya kepada dunia yang akan diperolehnya atau wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya kepada apa yang ia berhijrah kepadanya. (HR Bukhari dan Muslim)

Kebanyakan yang syahid dari ummatku, ialah mereka yang mati di tikar tidurnya. Dan banyaklah orang yang terbunuh di antara dua baris perang, yang Allah Mahatahu apa niatnya”. (HR Ahmad)

Allah tiada memandang rupa dan hartamu. Sesungguhnya Dia memandang kepada hati dan amal-mu (HR Muslim)

Nabi Saw bersabda: Sesungguhnya hamba itu beramal dengan amalan yang baik. Maka naiklah para malaikat dengan membawa halaman-halaman amal yang dicapkan (suhufin mukhtamah). Lalu diletakkan di hadapan Allah Swt. Maka Allah berfirman: “Campakkanlah halaman amal ini! Karena tidak dikehendaki akan wajahKu dengan apa yang didalamnya”. Kemudian Ia memanggil para malaikat: “Tuliskanlah bagi orang itu demikian-demikian! Para malaikat itu menjawab: “Wahai Tuhan kami! Bahwa orang itu tiada berbuat akan sesuatu yang demikian”. Maka Allah Swt berfirman: “Bahwa ia meniatkan yang demikian”. (HR Ad-Daraquthni)

Pada hadits yang dirawikan ‘Ubbadah dari Nabi saw bersabda: “Barangsiapa berperang dan ia tidak niatkan, selain pengikat binatang, maka baginya apa yang diniatkannya”. (HR An-Nasai)

“Barangsiapa telah bercita-cita dengan kebaikan dan tidak dikerjakannya, niscaya ditulis kebaikan baginya”. (HR Bukhari dan Muslim)

Nabi Saw bersabda : “Apabila bertemu dua barisan perang, niscaya turunlah malaikat yang menulis makhluk di atas tingkatan mereka: Si Anu berperang untuk dunia, si Anu berperang untuk kepanasan hati, si Anu berperang karena ‘ashabiyah (fanatik). Ketahuilah, maka janganlah kamu mengatakan si Anu itu terbunuh pada perang sabilillah. Maka siapa yang berperang supaya kalimat Allah yang tertinggi, niscaya dia itu fi-sabilillah”. (HR Ibnul Mubarak)

Dari Jabir, dari Rasulullah Saw bahwa beliau bersabda: “Dibangkitkan setiap hamba di atas apa yang ia mati padanya”. (HR Muslim)

Pada hadits yang diriwayatkan Al Ahnaf dari Abi Bakrah, bahwa Nabi Saw bersabda: “Apabila bertemu dua orang Islam dengan pedang keduanya, maka yang membunuh dan terbunuh itu dalam neraka”. Lalu ditanyakan: “Wahai Rasulullah, ini yang membunuh. Maka bagaimana dengan yang dibunuh?” Beliau menjawab: “Karena ia bermaksud membunuh kawannya”. (HR Bukhari dan Muslim)

Pada hadits yang dirawikan Abu Hurairah, yaitu: “Barangsiapa mengawini seorang wanita di atas mas kawin yang ditetapkan dan dia tidak berniat melunaskannya, maka dia itu penzina. Dan siapa yang berhutang dengan suatu hutang dan dia tidak berniat membayarnya, maka dia itu pencuri”. (HR Ahmad)

Nabi Saw bersabda: “Barangsiapa memakai bau-bauan karena Allah Swt, niscaya ia datang pada hari kiamat dan baunya lebih harum dari kesturi. Dan barangsiapa memakai bau-bauan untuk selain Allah, niscaya ia datang pada hari kaiamat dan baunya lebih busuk daripada bangkai”. (HR Abul-Walid As-Shaffar)

Diriwayatkan dalam cerita-cerita kaum Bani Israil, bahwa seorang laki-laki berjalan di bukit pasir dalam keadaan lapar. Lalu ia mengatakan pada dirinya: “Jikalau pasir ini makanan, maka akan aku bagikan kepada manusia”. Maka Allah Swt menurunkan wahyu kepada nabi mereka: “Katakanlah kepada laki-laki itu: “Bahwa Allah Swt telah menerima sedekah engkau. Ia bersyukur akan shalihnya niat engkau. Dan Ia memberikan kepada engkau pahala, jikalau pasir itu makanan lalu engkau bersedekah dengannya”.

Suatu saat Umar bin Khattab ra berkata: “Amal perbuatan yang paling afdal adalah menunaikan apa yang difardlukan Allah, wara’ dari apa yang diharamkan Allah dan benar niat kepada Allah Swt”.

Salim bin Abdullah menulis surat kepada Umar bin Abdul Azis, yang isinya: “Ketahuilah bahwa pertolongan Allah kepada hamba itu berdasarkan kadar niatnya. Maka barangsiapa yang sempurna niatnya, niscaya sempurnalah pertolongan Allah kepadanya. Dan apabila kurang, maka akan berkurang menurut kadarnya”.

Sebagian ulama Salaf berkata: “Banyak amalan yang kecil dibesarkan oleh niat. Dan banyak amal yang besar, menjadi kecil karena niat”.

Ats-Tsuri berkata: “Mereka (orang-orang mukmin) mempelajari niat bagaikan mereka mempelajari amal”.

Sebagian ulama Salaf berkata: ‘Aku menulis sebuah buku. Maka aku akan mengubur (menutupinya) dengan debu yang diambil dari halaman rumah tetanggaku tanpa izin. Tetapi aku mengurungkannya. Kemudian dalam hatiku muncul perkataan: “Debu, Ah apalah artinya debu?” Maka ada suara bisikan pada telingaku, “Orang yang meremehkan debu akan mengetahui apa yang akan ditemuinya di hari kemudian, berupa penghisaban yang jelek”.

“Apabila seorang hamba Allah berdosa dengan sesuatu dosa, maka menitiklah pada hatinya suatu titik hitam. Maka apabila ia mencabut dirinya dari dosa itu dan bertaubat, maka hati itu bersih kembali. Dan kalau ia kembali lagi, niscaya ditambahkan pada titik hitam itu, sehingga hatinya kotor. Maka itulah yang dinamakan karat.”  (Maimun bin Marhan)

Pada hari dinampakkan segala rahasia, maka sekali-kali tidak ada bagi manusia itu suatu kekuatanpun dan tidak (pula) seorang penolong. (QS. 86:9-10)

Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan. Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis. (QS. 54:52-53)

Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang juapun”. (QS. 18:49)

Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. (QS. 58:6)

Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya.Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan. (QS. 45:28)

Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan. (QS. 25:23)

Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amalnya dengan cukup dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya. (QS. 24:39)