2 Nights in Singapore: Mengajak Anak-anak Melihat Budaya lain

Kami ke Singapura dengan backpack, paling nggak disebut begitu karena saya, istri dan anak-anak pakai ransel semuanya, ditambah satu tas handy buat perlengkapan lain-lain. Kalo ranselnya cukup besar, mestinya tidak perlu tas tangan tersebut.

Saya ingin cerita mulai dari tahun lalu, sekitar bulan Maret 2009. Saat itu anak-anak minta libur naik pesawat, katanya udah lupa bagaimana rasanya naik pesawat. Ya, karena mereka bolak-balik naik pesawat Makassar-Jakarta saat usia mereka masih dibawah 3 tahun, pasti sudah lupa. Disamping saya juga saya ingin mengenalkan kepada anak-anak budaya negara lain yang berbeda dengan Indonesia, sebagai wawasan. Semoga karena pengalamannya di dapatkan pada masa kanak-kanak akan menempel sampai dewasa.

Akhirnya saya beri alternatif beberapa tempat. Mereka memilih untuk ke Singapura, demikian pula ibunya. Saya ke Singapura sudah 10 tahun yang lalu, sehingga punya sedikit pengalaman untuk kesana.

Saya dan anak-anak bersepakat bahwa untuk jalan-jalan tersebut, mereka akan menabung dari uang jajan mereka. Serius, mereka melakukan itu. Walau masih kurang, tetapi tabungan mereka sudah sampai rp 1.5-1.7 juta sampai awal Januari 2010 lalu.

Tiket

Saya memesan tiket penerbangan Air Asia Bandung-Singapura sejak Maret 2009. Sehingga dapet tiket promo. Sebenarnya pada bulan Oktober 2009 sudah bisa didapatkan flight murah, namun karena dengan pertimbangan waktu menabung mereka, akhirnya saya putuskan berangkat bulan Januari 2010. Harga tiket promo hanya sekitar Rp. 45.000,- sekali jalan. Ditambah asuransi, book kursi, bagasi, dsb total untuk kami berempat pp habis sekitar Rp. 2.4 jt lebih sedikit. Mestinya kalau tidak pesan asuransi, book kursi, dan bagasi akan jauh lebih murah.

Untuk melakukan pembelian, rekan-rekan bisa beli tiket langsung di http://www.airasia.com
Dalam pembelian melalui web transaksi dilakukan dengan kartu kredit. Pastikan bahwa nama yang ditulis sesuai dengan nama pada passport.

Passport

Baru Desember 2009 lalu saya sempat membuat passport buat istri dan anak-anak. Untuk saya tinggal memperpanjang yang ada, walau prosedur memperpanjang sama dengan bikin baru. Proses pembuatan tidak rumit, hanya harus sabar antri. Sabar juga kalo diserobot sama pengurus passport Letjend (lewat jendela), hehehe.

Kita butuh datang 3 kali saat urus passport. Pertama, memasukan formulir (bisa diwakilkan). Kedua, foto dan wawancara (tidak bisa diwakilkan). Ketiga, pengambilan passport (bisa diwakilkan). Dari memasukkan formulir sampai passport jadi paling cepat 8 hari kerja.

Untuk mengurus passport anak-anak syaratnya tidak sulit, selain syarat umum seperti orang dewasa, hanya perlu ditambah surat pernyataan yang sudah disediakan oleh imigrasi. Total biaya pengurusan passport Rp. 10.000,- buat formulir dan Rp. 270.000,- untuk passport 48 halaman.

Persiapan

Karena meninggalkan bayi di rumah, perjalanan kami jadwalkan hanya 2 malam saja. Agar efektif saya harus mempersiapkan dengan matang perjalanan tersebut.

Sekarang ini, untuk melakukan persiapan sangat mudah. Dengan browsing internet kita bisa mendapatkan informasi yang banyak sesuai yang kita butuhkan. Saya juga mencari informasi melalui kawan kantor yang anaknya sekolah di Singapura. Thanks to Pak Frigard ya…

Dari semua informasi tersebut, saya dapat membuat timeplan dan kemana saja tujuan wisata. Untuk 2 malam, saya memutuskan hanya ke science center, sentosa island (song fo the sea), river tour, jalan ke merlion dan esplanade, dengan ke pasar bugis/china town/little india. Saya pelajari betul peta perjalanan untuk ke lokasi wisata tersebut.

Untuk hotel sebaiknya sudah dipesan sebelum berangkat. Pemesanan bisa dilakukan melalui internet. Di beberapa travel di Bandung yang menyediakan tour ke Singapura ternyata juga menjual voucher untuk beberapa hotel di Singapura. Bahkan mereka memberikan harga lebih murah dibangdingkan dengan harga di Singapura sendiri.

Untuk kemudahan transaksi di Singapura, sebaiknya kita siapkan uang dollar singapura (SGD). Untuk menukar dapat dilakukan di money changer. Money cchanger yang sedia SGD di Bandung ada di GMC samping Kartika Sari Dago.

Keberangkatan

Pesawat berangkat jam 11.15 wib. Kami sudah tiba di Bandara 8.30 wib. Baru pukul 9.00 wib loket Air Asia ke Singapura dibuka. Saya penumpang pertama yang melakukan check in. Passport dan tiket diperiksa. Semua ok, kami diberi boarding pass dengan kartu embarkasi yang harus diisi.

Dengan boarding pass, kami menuju loket Airport Tax. Kami membayar Rp. 75.000,- untuk setiap kepala. Setelah itu kami menuju loket fiskal. Karena saya dan istri memiliki NPWP sehingga tidak perlu membayar fiskal. Untuk fiskal anak-anak cukup menunjukan copy kartu keluarga. Penting untuk disiapkan copy NPWP, copy passport dan copy kartu keluarga.

Untuk masuk ke ruang tunggu boarding airport, kami terlebih dahulu mengisi kartu embarkasi dengan selengkap-lengkapnya. Tiap orang mengisi kartu embarkasi. Kartu embarkasi anak-anak dapat ditandatangani oleh orang tuanya.

Setelah loket imigrasi buka, kami langsung menuju loket. Passport, boarding pass, dan kartu embarkasi diperiksa. Selanjutnya kartu embarkasi dirobek, satu sisi mereka ambil, sisi yang lain kita bawa. Kartu ini harus disimpan baik-baik, karena akan diperiksa saat kita kembali ke Indonesia.

Di atas pesawat kita akan diberi kartu debarkasi singapura. Kartu ini harus diisi lengkap dengan huruf kapital, dan akan diserahkan ke petugas imigrasi di Changi.

Kedatangan

Sampai di Changi kita berjalan menuju Baggage Claim. Petunjuk jalan sudah sangat lengkap. Sebelum sampai ke tempat bagasi keluar, kita harus melalui loket imigrasi. Kartu debarkasi kita serahkan, lalu dirobek, satu sisi dia simpan dan sisi lain diserahkan ke kita. Sama seperti kartu embarkasi, kartu ini juga harus disimpan baik-baik karena harus diserahkan saat kita pulang.

Sampai lah kita ke tempat bagasi keluar. Setelah ambil bagasi lalu kita dapat langsung ke pintu keluar, tidak perlu masuk ke loket pemeriksaan barang oleh customs.

Dari pintu keluar ikuti petunjuk jalan menuju monorail. Kalau tidak salah di petunjuk jalan tsb menggunakan istrilah Sky Train. Monorail ini gratis, kita pilih monorail menuju terminal 2.

Sampai di terminal 2, kita turun ke lantai B1 untuk ke terminal MRT. Di sini petunjuk jalan agak kurang. Jadi jangan sungkan untuk bertanya.

Sampai di terminal MRT, langsung menuju passenger service. Kita bisa beli tiket MRT untuk turis, atau bisa juga beli EZ-Link. Kalau beli EZ-Link harganya SGD 15, diimana didalam kartu tersebut sudah terisi voucher senilai SGD 10. Masing-masing orang harus memegang satu kartu.

Kartu EZ-Link ini kartu magnetik. Saat mau masuk gerbang MRT cukup di tap di gerbang agar pintu terbuka. Demikian pula bisa sudah sampai tujuan, untuk keluar terminal cukup di tap, maka gerbang akan terbuka.

Hotel

Sesampai di Singapura, melalui telepon saya dapati informasi, ternyata Hostel yang saya booking via web menyatakan tidak menerima permintaan saya. Padahal pesanan saya sudah email yang kedua. Awalnya saya berencana untuk menginap di private room hotel backpacker karena lebih murah.

Akhrinya saya memutuskan langsung saja ke Bugis Village untuk mencari hotel. Beberapa hostel backpacker di Jalan Besar Road (dekat masjid Abdul Ghafur) saya datangi. Mereka hanya menyediakan dommitory room (satu kamar 6 orang) seperti barak begitulah. Saya memutuskan tidak mengambil tempat di hostel tersebut. Apalagi dengan melihat ternyata hostel-hostel tersebut disewa oleh bule-bule, dimana di loby hostel mereka berkumpul seperti di bar saja.

Akhirnya saya mendatangi Hotel 81. Ada 2 hotel 81 di Jalan Besar Road. Kondisi hotel bagus dan bersih. Ratenya SGD 99 weekend untuk double bed atau twin bed. Sementara kalau hari biasa SGD 89. Karena kami berempat mereka mempersyaratkan untuk menyewa 1 extra bed seharga SGD 20 per hari. Pembayaran dapat dilakukan dengan credit card tanpa charge tambahan.

Makan dan Minum

Kami cari makan sendiri. Cukup banyak tersedia rumah makan di wilayah Bugis. Untuk yang muslim, juga tersedia banyak rumah makan halal. Namun permasalahannya mungkin di cita rasa. Cita rasanya tidak biasa dengan lidah orang Indonesia.

Kami dari Bandung membawa makanan-makanan kecil, sozis, mie dan roti. Hal ini sangat bermanfaat, ketika ternyata anak-anak nggak cocok dengan cita rasa masakan sana. Bisa untuk mengganjal sementara. Ini pengalaman saya dari yang sebelumnya.

Harga makanan dan minuman disana rata-rata 3 kali lipat dari di Indonesia. Sebagai contoh aqua botol 1L, diimana di Indonesia harganya hanya sekitar Rp. 3.500, disana seharga SGD 1.6 atau sama dengan Rp. 11.000,-

Di terminal MRT Jurong East terdapat rumah makan padang. Walaupun rasanya sudah agak termodifikasi dengan rasa India, namun lumayan lah untuk lidah Indonesia. Harganya juga murah (bila dibanding yang lain) yaitu seharga SGD3-4 atau sekitar Rp. 21.000-28.000,-

MCD dan KFC disana juga berbeda dengan di Indonesia. Mereka tidak menyediakan menu nasi sebagaimana layaknya di Indonesia.

Transportasi

Di Singapura hanya terdapat 3 jenis transportasi, yaitu taxi, bus dan MRT. Kami lebih memilih menggunakan MRt daripada bus dan Taxi.

MRT adalah kereta bawah tanah (sub way) yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lain. Rata-rata kita harus menuruni 90 anak tangga untuk sampai ke pintu MRT. Namun jangan kuatir, di terminal tersedia lift dan eskalator. Walau sepertinya lift jarang digunakan oleh orang.

Peta MRT dapat kita download di internet. Atau saat di bandara kita bisa mendapatkan brosur-brosur wisata yang di dalamnya berisi peta MRT.

Untuk naik MRT kita harus terlebih dahulu membeli EZ-Link atau tiket yang tersedia di terminal. Saya lebih menyarankan menggunakan kartu EZ-Link. Saat masuk gerbang, kita hanya perlu men-tap kartu kita ke pad scanner gerbang. Demikian pula saat akan keluar terminal. Sepuluh tahun lalu saat saya ke Singapura belum dikenal kartu EZ-Link. Kita masih harus menggunakan coin apabila akan keluar masuk gerbang.

Sekarang ini terdapat 3 jalur MRT. Jalur hijau (East West Line), jalur merah (North Suth Line) dan jalur ungu (North East Line). Terminal Bugis terdapat di jalur hijau.

Untuk menuju ke sebuah tempat dengan MRT sangat mudah. Dalam satu terminal terdapat dua arah, arah maju atau kebalikannya. Kita tinggal memilih salah satunya sesuai tujuan kita.

Apabila pindah jalur, kita harus melakukannya di terminal-terminal interchange. Biasanya di peta di gambar dengan bulatan. Pindah jalur MRT dilakukan langsung tanpa perlu keluar gerbang. Biasanya untuk pindah jalur kita harus turun atau naik tangga dulu.

Sejak masuk terminal MRT dan didalam MRT kita tidak dibolehkan untuk makan, minum, merokok dan membawa barang yang dapat meledak. Kita akan melihat stiker di terminal dan di MRT yang menginformasikan denda untuk masing-masing pelanggaran.

Jangan sampai masuk gerbang terminal tanpa men-tap kartu, karena saat keluar terminal tujuan dijamin kartu nggak bisa digunakan. Demikian pula sebaliknya. Kadang kartu EZ-Link kita juga mengalami error. Keduanya solusinya mudah, tinggal lapor saja ke Passenger Service.

Kalau isi kartu EZ-Link habis, nanti saat masuk gerbang akan ada warning. Kalau mau memeriksa isi kartu kita juga bisa melakukannya di tickets mechine yang banyak di pasang di dinding di terminal MRT. Untuk menambah nilai (top up) bisa langsung ke passenger service. Top up minimal adalah SGD 10. Sangat mudah.

Naik MRT ini resikonya pegel dan capek. Kita harus berjalan ratusan meter bahkan beberapa kilo untuk menuju terminal MRT. Demikian pula saat keluar terminal atau saat di interchange. Tapi orang-orang Singapura saya perhatikan sudah terbiasa melakukan hal tersebut. Sangat berbeda dengan di Indonesia, yang dimana saja bisa naik dan turun angkot atau bis, hehehe.

Wisata

1. River Tour

Tempat wisata yang kami kunjungi pertama kali adalah River Tour. River tour dilakukan dengan menaiki perahu yang berdaya tampung sekitar 20 an orang. Perahu berjalan mulai dari Clarke Quay sampai Merlion. Kita akan melihat gedung-gedung tinggi di pinggir sungai, esplanade, merlion at river angle. Kita juga akan melewati jembatan-jembatan yang mempunyai gaya arsitektur berbeda-beda. Benar kata Pak Frigard, river tour malam hari sangat eksotis. Cahaya lampu gedung-gedung, punya daya tarik yang lain.

Tiket untuk river tour SGD 15 untuk dewasa dan SGD 9 untuk anak-anak.

Karena kami malam minggu di Clarke Quay maka kami dapet tontonan seperti Naga Attraction, Oriental Music Live dan Kembang api yang rupanya selalu diselenggarakan setiap malam sabtu dan minggu.

2. Esplanade dan Merlion

Pagi-pagi sekali kami jalan menuju Esplanade. Naik MRT dari Bugis ke Raffles. Keluar terminal Raffles saya belok kanan menuju sungai. Sungai yang kami lewati tadi malam, sekarang kami susuri di pagi hari. Sangat berbeda.

Sampai di Esplanade dan Merlion kami berfoto-foto. Kata orang-orang kalau ke Singapura harus foto dengan background Merlion dan Esplanade, apa iya?

3. Science Center

Selesai dari Esplanade dan Merlion, kami menuju Science Center. Berjalan lagi menuju terminal MRT Raffles menuju ke Jurong East. Di jalur ini beberapa waktu MRT berjalan di atas, sehingga kita bisa melihat pemandangan yang di lalui MRT.

Sampai di Jurong East, turun lalu menerobos pasar, menyebrang jalan, sampailah kami di Science Center. Baru saja menjejag pintu masuk, Fia dikagetkan oleh Tyrex yang mengeluarkan suara keras dan gerakan seperti mau memakannya.

Masuk ke Science Center Gallery dewasa SGD 6, anak-anak SGD 3. Sebenarnya disini ada paket ke Snow City dan 4D theatre. Namun karena waktu kami sempit, kami hanya masuk ke Science Center Gallery. Di scince center tersedia banyak simulasi tentang ilmu pengetahuan. Anak-anak bisa mencoba bagaimana fungsi optic, bagaimana suara, petir, dsb. Tentu yang paling menarik buat anak-anak adalah section Water Works dimana mereka bisa bermain-main air.

Saat itu bersamaan sedang ada eksebisi Body Worlds. Ibunya anak-anak sangat ingin melihat eksebisi ini, sehingga kita berpisah saat di water works. Katanya Body Worlds ini sangat luar biasa, dimana dalam eksebisi tersebut ditampilkan organ-organ tubuh asli, otot, saraf, pembuluh darah dan tulang yang sudah dipisah dan masih berdiri seperti manusia. Untuk masuk Body Worlds bayar SGD 20.

4. Sentosa Island

Dari Scrience Center kami kembali ke terminal MRT Jurong East. Lalu mengambil jalur menuju Outram Park dan berpindah MRT menuju Harbour Port. Di Harbour Fort kami berjalan ke Vivo City tempat tersedianya terminal monorail ke Sentosa. Masing-masing orang harus membayar SGD 3 untuk masuk Sentosa. Pembayaran dilakukan melalui mesin yang membaca uang kertas, lalu mesin tersebut mengeluarkan kartu untuk masuk Sentosa.

Dengan monorail kami menuju Sentosa. Turun diterminal terakhir. Saat itu sudah cukup sore, sehingga kami langsung membeli tiket Song of the Sea yang akan mulai 7.40 pm. sambil menunggu waktu, kami naik tram ke Palawan Beach, dimana terdapat jembatan gantung yang panjang. Buat teman-teman yang membawa anaknya ke Singapura, sangat direkomendasikan untuk nonton Song of the Sea. Biaya masuk nonton Song of the Sea masing-masing kepala adalah SGD 10.

5. Pasar Bugis

Senin pagi, sebelum kembali ke Bandung, kami sempatkan jalan-jalan ke Pasar Bugis untuk cari souveir. Sebenarnya selain Pasar Bugis, di China Town dan Little India juga banyak tersedia souvenir. Namun karena pertimbangan waktu, kami hanya ke Pasar Bugis yang lebih dekat dengan hotel kami tinggal. Di tempat ini souvenir umumnya lebih murah harganya.

Pulang

Setelah selesai berbelanja oleh-oleh, kami segera bergegas untuk kembali ke Hotel, bersiap-siap lalu kembali berjalan menuju terminal MRT Bugis. Saat itu jam 11.40 am. Kami menuju bandara Changi dengan menggunakan MRT menuju Tanah Merah lalu berganti MRT yang menuju terminal 2 Changi. Saya cek, 30 menit sudah sampai.

Sampai di di terminal 2 Changi terdapat TV LCD besar dimana kita dapat melihat dimana posisi pesawat kita. Selanjutnya kita hanya perlu mencari lokasi tersebut. Kebetulan dalam display terlihat bahwa Air Asia ke Bandung berada di terminal 1 row 11. Dari terminal 2 ke terminal 1 kami kembali naik monorail.

Sampai di loket Air Asia kami langsung antri. Tiket dan passport kami tunjukan, untuk selanjutnya kami mendapatkan boarding pass.

Lalu kami berjalan menuju gate tempat boarding. Sebelum masuk ke gate tersebut, kami kembali melalui pemeriksaan imigrasi. Kartu debarkasi yang diberikan saat kedatangan lalu diminta kembali oleh petugas. Menariknya ternyata kami tidak perlu lagi membayar airport tax. Sehingga anggaran yang kami sediakan untuk airport tax bersisa.

Di ruang tunggu air port tersedia telepon gratis untuk lokal dan juga akses internet gratis. Kami memanfaatkannya sambil menunggu waktu keberangkatan.

Perjalanan dari Singapura ke Bandung lancar dan tepat waktu. Kami sampai di Bandung sekitar pukul 15 waktu setempat. Sebelum masuk kami diminta untuk mengisi kartu yang menjelaskan tentang apa saja barang-barang yang kami bawa dari Singapura. Cukup satu kartu untuk satu keluarga.

Di Bandara Husen kami antri untuk memasuki pemeriksaan imigrasi. Nampak seorang petugas customs membawa anjing yang digunakan untuk membaui seluruh tas yang dibawa oleh penumpang. Mungkin anjing ini dilatih untuk membawai narkotika.

Setelah antri cukup panjang, kartu embarkasi dan kartu yang menjelaskan bawaann barang-barang kami serahkan ke petugas imigrasi.

Kembali ke rumah

Kami kembali ke rumah dengan selamat. Anak-anak nampak belum bisa melupakan pengalaman mereka di Singapura. Fia anak pertama kami berkata, ”Ayah, Fia nanti kalau jadi presiden mau membuat Indonesia biar bisa rapih seperti di Singapura”. Semoga saja ini membawa wawasan yang lebih baik untuk kehidupan mereka di masa datang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: