Umrah Backpacking

Pada bulan Oktober 2009 tidak sengaja ketika saya melakukan browsing, saya menemukan rute penerbangan yang murah dari Bandung ke Jeddah, hanya Rp. 4 juta pp. Sehingga terbetik ide untuk melakukan umrah dengan backpack.

Saya menawarkan kepada beberapa teman untuk bersama-sama melaksanakan umrah backpack. Respon positif saya dapat dari beberapa teman. Namun dikarenakan ini merupakan perjalanan perdana saya, saya hanya membatasi untuk pergi dengan 3 teman. Saya, Mas Sigit, Mas Nuaim dan Pak Ade rencana berangkat bersama.

Akhirnya saya memesan tiket melalui internet dengan jalur Bandung-Kuala Lumpur-Kochi (India) dengan Air Asia. Lalu Kochi (India)-Madinah transit di Sharjah dengan menggunakan Air Arabia untuk bulan Maret 2010. Semua proses reservasi saya lakukan melalui internet dengan mudah dan cepat.

Kerajaan Saudi Arabia mempersyaratkan setiap orang yang akan melakukan umrah harus terlebih dahulu mendapat izin dari Kerjaaan dengan diterbitkannya visa umrah. Dari informasi yang saya dapatkan melalui internet, ternyata untuk pengurusan visa umrah ini tidak dapat dilakukan langsung melalui Kedubes Saudi Arabia di Jakarta, tetapi harus melalui travel agent (KBIH) yang ditunjuk oleh Kerjaaan Saudi.

Berdasarkan informasi tersebut saya mencoba menghubungi beberapa KBIH dan menanyakan tentang pengurusan visa umrah. Sebahagian besar KBIH tidak bersedia melakukan pengurusan visa umrah saja. Mereka mengharuskan kita mendaftar kesertaan umrah melalui mereka.

Dalam pencarian yang cukup sulit saya mendapatkan beberapa KBIH bersedia membantu pengurusan visa umrah dengan biaya Rp. 500.000,- Tetapi mereka meminta jaminan kepada kita untuk memastikan bahwa kita akan kembali lagi ke Indonesia, karena bila tidak kembali, mereka akan dikenai sanksi oleh Kerajaan Saudi Arabia. Jaminan dapat berupa uang senilai SAR 3000,- (sama dengan Rp. 7.5 juta) atau surat berharga semacam ijazah, SK, dsb. Setelah proses yang cukup panjang, akhirnya kami berhasil mendapatkan KBIH yang bersedia membantu pengurusan visa umrah kami.

Pengurusan visa sudah kami lakukan sejak pertengahan bulan Februari 2010. Namun ternyata dikarenakan adanya perubahan kebijakan Kerajaan Saudi Arabia, terkait dengan penerbitan visa umrah, visa umrah kami tertunda. Bukan hanya kami, saya dengar beberapa rekan yang berencana umrah melalui KBIH di awal Maret 2010 ini diundur sampai minggu ke tiga Maret 2010. Berharap-harap cemas, sampai dengan tanggal 1 Maret 2010 visa umrah kami belum terbit. Padahal kami harus berangkat tanggal 2 Maret 2010 pagi sekali. Artinya kami tidak akan mungkin berangkat tanggal 2 Maret 2010 pagi dan tiket perjalanan kami dari Bandung-Madinah akan hangus.

Setelah saya diskusikan dengan teman-teman yang akan bersama-sama pergi, Pak Ade memutuskan untuk tidak melanjutkan keberangkatan. Sementara Mas Nuaim dan Mas Sigit tetap mantap akan pergi.

Setelah pada tanggal 2 Maret 2010 kami mendapatkan kepastian bahwa visa telah diterima, sore hari saya mencoba melakukan pencarian tiket Jakarta-Jeddah melalui expedia.com. Beruntung sekitar pukul 5 sore saya mendapatkan tiket Etihad dijual USD 350, padahal sebelumnya seharga lebih dari USD 450. Tanpa menunggu persetujuan dari Mas Sigit dan Mas Nuaim saya lakukan transaksi pembelian tiket tersebut.

Sebenarnya saya masih agak was-was dengan pembelian tiket tersebut. Karena saya belum pernah sebelumnya membeli tiket dari expedia.com, namun ternyata proses di bandara lancar dan tidak ada masalah.

 

Keberangkatan

Akhirnya kami berangkat dengan Etihad dari Soekarno Hatta, transit di Abu Dhabi lalu langsung menuju Jeddah. Kami tiba di Jeddah sekitar jam 03 pagi waktu setempat. Kami melakukan proses di imigrasi sendiri. Antri dengan jamaah-jamaah dari Canada, Tazikistan, yang nampaknya melakukan perjalanan mandiri.

Proses di imigrasi sebenarnya sama saja dengan proses imigrasi di negara lain, yaitu hanya pemeriksaan passport dan visa. Namun ternyata prosesnya hampir 2 jam karena petugas pemeriksa, melakukan pekerjaannya sambil ngobrol dengan temannya. Beberapa jamaah dari Canada nampak sangat kecewa dengan sikap petugas tersebut. Sementara disisi lain, saya melihat jamaah-jamaah umrah yang datang dengan KBIH masuk dengan cepat melalui pintu khusus.

Kami keluar Bandara Jeddah dengan lega, karena pemeriksaaan yang panjang telah kami lalui. Kami dikagetkan ketika passport kami diminta oleh petugas di pintu keluar. Mereka beralasan bahwa akan mem-fotocopy dahulu passport tersebut. Ini adalah proses yang tidak lazim, dimana passport kami diminta tanpa tanda terima dan tanpa kejelasan kapan bisa diambil.

Kami menunggu panggilan penyerahan passport, namun panggilan tersebut tidak pernah kami dengar. Kami melihat beberapa jamaah dari Canada yang datang jauh lebih dahulu dari kami, nampak sewot dengan petugas karena sudah lama menunggu tetapi passport belum juga diserahkan. Saya dua kali datang ke meja petugas dan menanyakan passport kami, hanya dijawab oleh petugas dengan kata “sit” yang meminta kami duduk kembali. Nampaknya itu satu-satunya kata dalam bahasa Inggris yang ia ketahui.

Setelah menunggu sejam, saya melihat petugas mengeluarkan tumpukan passport. Tidak ada sama sekali panggilan ataupun pemberitahuan. Passport ditumpuk begitu saja di meja, dan orang berebutan mengambil. Kebetulan warna passport kami hijau, berbeda dengan passport dari negara lain yang berwarna biru tua dan merah tua, sehingga kami dengan mudah mengenalinya. Mas Nuaim bergumam: “Seandainya passport hilang, siapa yang akan bertanggung jawab?

Sampai di Jeddah kami berencana pergi ke Madinah. Kami bersepakat ke Madinah dulu, karena ingin merasakan rute yang dilakukan oleh Nabi Saw dan para sahabat dulu. Karena masih sangat pagi, sulit bagi kami untuk mendapatkan bis yang ada di utara terminal Jeddah. Alternatif kami adalah akan naik taxi ke Madinah dengan tarif antara SAR 300-500. Sebenarnya kalau rute kami ke Makkah terlebih dahulu akan lebih mudah, karena letak kota Makkah dibandingkan Madinah lebih dekat dengan Jeddah. Taxi dari Jeddah ke Makkah normal hanya bertarif SAR 130.

Kebetulan ada rombongan jamaah umrah dari Banjarmasin yang baru saja tiba. Kami mencoba menghubungi pimpinan rombongan dan menyampaikan niat kami untuk menumpang bisnya bila memungkinkan ke Madinah. Alhamdulillah kami bisa mendapatkan tumpangan bis tersebut.

 

Madinah al Munawarah

Kami tiba di Madinah sekitar jam 10.30 waktu setempat. Kami menginap di Hotel Dallah Taiba, hotel bintang 4 yang hanya berjarak 70 m dari gerbang Masjid Nabawi. Tarif untuk kamar 2 orang adalah SAR 275, dan SAR 325 untuk 3 orang. Setelah bebersih kami langsung menunju Masjid Nabawi untuk melaksanakan shalat tahyatul masjid.

Masjid Nabawi sangat mengagumkan buat kami. Desainnya yang artistik sangat indah, sejuk terlihat di mata. Di selasar masjid kami mendapatkan canopy masjid dengan desain yang sangat menarik. Ia dapat dibuka dan tutup tegantung cuaca.

Masuk ke dalam Masjid Nabawi, terlihat sangat besar dan mewah. Karpet merah tebal menghampar hampir di seluruh masjid. Di sisi kanan dan kiri jalan masuk masjid, terdapat banyak dispenser berisi air zamzam yang diperuntukan jamaah yang datang. Masih di dalam masjid, di bagian depan, terdapat tempat bernama Raudah yang dahulu merupakan tempat antara rumah Nabi Saw dan mimbar Masjid Nabawi asli . Raudah menggunakan karpet berwarna hijau, berbeda dengan karpet lainnya. Orang-orang berebut untuk dapat shalat dan berdoa di Raudah, hal ini karena terdapat riwayat bahwa orang yang berdoa ditempat ini akan dikabulkan Allah.

Di sisi Raudah terdapat makam Nabi Saw, Abu Bakar ra, dan Umar bin Khatab ra. Makam ini hanya berbentuk 3 kamar yang tertutup oleh teralis besi. Kita tidak akan melihat apa-apa bila menerawang di balik teralis besi tersebut. Orang-orang berjalan melalui makam ini sambil mengucapkan salam. Beberapa berdoa dan menangis, sehingga ditegur oleh petugas (askar) untuk tidak melakukan hal tersebut.

Disebelah maqam Rasulullah Saw, akan didapatkan pintu yang disebut Baqi. Menurut beberapa informasi di Baqi ini terdapat maqam istri-istri Nabi Saw, anak-anak Nabi Saw, cucu Nabi Saw Hasan bin Ali, dan keturunan beliau Saw Ali Zainal Abidin. Beberapa sahabat beliau yang dimakamkan ditempat ini adalah ‘Utsman bin ‘Affan, ‘Abdullah bin Mas‘ud, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, dan Sa‘d bin Abu Waqqash.

Sesuatu hal yang kurang menyenangkan ketika Shalat di Masjid Nabawi ini adalah banyak orang yang meloncati atau melewati orang-orang yang shalat demi bisa shalat di depan, mungkin mereka lupa bahwa Rasulullah Saw melarang untuk melakukan hal tersebut.

Keluar dari masjid nabawi kita akan menemukan banyak toko-toko di depan Masjid Nabawi. Sebahagian besar harga-harga makanan dan barang di sini lebih murah daripada di Indonesia. Beberapa minuman kaleng yang di Indonesia seharga Rp. 4500,- disini hanya seharga SAR 1 (Rp. 2500,-). Pakaian ihram juga kami beli hanya seharga SAR 30 atau sama dengan Rp. 75.000,-

Di Madinah kami sempatkan untuk ziarah ke Gunung Uhud, Khandak, Masjid Qiblatayn, dan Masjid Quba. Ziarah dilakukan dengan menggunakan taxi dengan ongkos SAR 100 untuk kami bertiga.

 

Makkah al Mukarramah

Setelah 3 hari di Madinah, kami selanjutnya berangkat ke Makkah al Mukarramah. Tidak sulit bagi kita untuk mencari transportasi menuju Makkah. Taxi dan Bis akan kita dapatkan tidak jauh dari Nabawi. Untuk taxi kita dapat dua pilihan, dicarter seharga SAR 300, atau dihitung perorang seharga SAR 50. Untuk yang kedua, taxi baru akan jalan setelah penuh. Harga yang sama juga berlaku bila kita ingin ke Jeddah.

Untuk bis AC umum ke Makkah kita bisa mendapatkannya persis di depan toko-toko, sekitar 200 meter di depan Nabawi, tarifnya murah hanya sekitar SAR 25. Bila akan naik bis Saptco, bis dengan kualitas yang jauh lebih baik, tarifnya SAR 60 dan SAR 80.

Bis berhenti dahulu di Masjid Bir Ali. Masjid ini tidak jauh dari Madinah. Di Masjid ini kita berganti pakaian dengan pakaian Ihram, memantapkan niat umrah, dan bertalbiyah. Di masjid ini kita akan melihat jamaah umrah dari Turki berkumpul sambil mengumandangkan talbiyah: “Labbaik Allahumma Labaik…

Sampai di Makkah kami langsung ke Hotel. Terminal-terminal bis Saptco, persis berada di depan Masjid Haram. Setelah makan, kami langsung menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan umrah.

Saat itu sekitar jam 12 malam waktu setempat. Kami masuk ke Masjidil Haram melalui pintu 79, King Fahd Gate. Nampak bangunan Kabah di tengah-tengah Masjidil Haram dengan orang-orang tawaf mengelilinginya. Tidak terasa menetes air mata haru, menyaksikan bait Allah yang dibangun oleh Khalilullah Ibrahim as.

Sambil bertalbiyah, kami mulai melakukan tawaf, mengelilingi Kabah sambil bertasbih dan berdoa pada-Nya. Tidak ada doa yang dapat saya panjatkan kecuali, mohon ampun kepada-Nya.

Selesai tawaf, saya masuk ke dalam Hijr Ismail, sebuah ruangan terbuka di samping Kabah. Menurut riwayat dahulunya Hijr Ismail ada di dalam Kabah. Sehingga ketika kita shalat dan berdoa di Hijr Ismail, sama artinya dengan shalat dan berdoa di dalam Kabah. Saya menyempatkan shalat dan berdoa di dalamnya. Beberapa titipan doa teman-teman tidak lupa saya panjatkan ditempat Ibu Hajar dan Ismail as ditinggalkan oleh Ibrahim as dahulu.

Setelah itu saya sempatkan untuk mendatangi Hajar Aswad. Tampak orang desak-desakan, sikut-sikutan, dan beberapa pukul-pukulan untuk dapat mencium Hajar Aswad. Sangat menyedihkan sekali. Dengan menyerahkan diri kepada Allah, saya tempelkan badan saya ke seseorang yang sedang berebutan. Subhanallah, saya tiba-tiba sudah berada di depan Hajar Aswad. Seorang dari Libanon, berambut panjang dan berkacamata yang sudah lama antri dan belum berkesempatan mencium Hajar Aswad, saya tarik kepalanya dan saya masukkan ke dalam lubang Hajar Aswad, lalu setelah itu saya sempatkan beberapa detik untuk mencium Hajar Aswad tersebut. Maha Besar Allah.

Setelah mencium Hajar Aswad, saya melakukan Syai dari Safa dan Marwa. Alhamdulillah Allah memberikan kekuatan bagi saya untuk melakukan syai tanpa terputus. Saya telah terpisah dengan kedua sahabat saya. Selesai Syai, saya bertemu kembali dengan kedua sahabat saya yang terpisah. Selanjutnya kami menuju Marwa untuk melakukan tahalul. Seorang wanita bercadar memberikan kepada kami sebuah gunting untuk melakukan tahalul, ”this is for you” kata wanita bercadar tersebut. Mas Nuaim saya minta untuk melakukan tahalul.

Setelah tahlul, kami kembali ke Hotel untuk mandi dan berganti pakaian. Luar biasa rasa di dalam hati ini saya rasakan. Sehingga akhirnya saya lebih suka menyendiri dibandingkan harus berjalan dengan kedua sahabat saya. Merenungi diri.

Setelah beberapa hari di Makkah al Mukaramah, kami sempatkan untuk ziarah ke beberapa tempat seperti Gua Hira, Gua Tsur, Mina, Arafah dan Jabal Rahmah tempat bertemunya Nabi Adam as dengan Ibu Hawa. Situasi di Jabal Rahmah tidak menyenangkan, karena kami harus bertemu dengan orang-orang Bangladesh yang menawarkan kita naik untanya dengan cara paksa. Bahkan sahabat saya Mas Nuaim sampai dikejar-kejar oleh orang Bangladesh tersebut agar mau naik ke untanya.

Keadaaan Gua Hira membuat kami tercengang. Bagaimana tidak, posisinya yang berada dipuncak gunung batu yang tinggi tentu tidak mudah untuk dicapai. Beberapa orang mengatakan bahwa butuh waktu 2-3 jam untuk mencapai Gua Hira, padahal dahulu Nabi Saw turun naik ke tempat tersebut sampai beliau menerima wahyu pertama dari Allah Swt.

Pada hari ketiga, kami berencana kembali ke tanah air. Sebelum kembali, kami sempatkan untuk melakukan tawaf wada. ”Semoga Allah berkenan menjadikan hati ini sebagai bait-Nya sebagaimana ia menjadikan kabah sebagai bait-Nya”.

Kami pergi dari Mekkah ke Airport Jeddah dengan taxi. Setelah tawar menawar cukup alot, kami sepakati harga SAR 130 untuk sampai di Airport Jeddah. Sebenarnya ini harga yang pantas, namun para supir taxi disana menurut informasi sering meminta kepada orang asing harga yang jauh lebih tinggi.

Proses imigrasi keberangkatan di Jeddah tidak sulit. Setelah beberapa waktu kami menunggu, akhirnya pesawat kami terbang meninggalkan Saudi Arabia.

17 Responses to Umrah Backpacking

  1. D says:

    Assw, mas Imam, selama perjalanan di sana banyak proses tawar menawar, tentunya sudah fasih bahasa Arabnya ya ?🙂
    Kunjungan perdana nih ke blognya. Tks for sharing.

    • Imam Suhadi says:

      Mbak Dina, kalau saya nggak fasih blas bahasa arab. Kebetulan Mas Nuaim yang bareng2 sama saya adalah guru bahasa Arab saya, dia yang fasih🙂 Terimakasih kunjungannya ya…

  2. Imam Suhadi says:

    Mbak Dina, kalau saya nggak fasih blas bahasa arab. Kebetulan Mas Nuaim yang bareng2 sama saya adalah guru bahasa Arab saya, dia yang fasih🙂 Terimakasih kunjungannya ya…

  3. ira says:

    Assalamualaikum,
    mas boleh tidak saya tanya lebih detail soal umroh backpacker by email?saya tertarik ingin umroh backpacker juga. saya pengen tau soal travel agent yg bisa urus visa umroh backpacker, cara pemesanan hotel di mekah & madinah, dan transportasi jeddah, mekkah, madinah. email saya giokemas@gmail.com. terimakasih. wassalam

  4. venus says:

    Assalamu’alaikum, pak Imam.. mohon infonya alamat dan nama travel agent(KBIH) yg bisa menguruskan visa umroh untuk backpacker, krn rencananya saya dan adik2 sy ingin melaksakan ibadah umroh backpack dengan biaya murah. bila bapak berkenan, mohon saya di invite pin 269730D7,087782426308. (mohon di balas ya pak…) syukron…
    (venus)

    • Imam Suhadi says:

      Pak Venus
      Waktu saya backpack, saya menghubungi banyak travel agent untuk menanyakan hal tsb. Ada travel agent yg mempersyaratkan jaminan uang, ada yang mempersyaratkan jaminan ijazah untuk memastikan bahwa kami akan kembali. Karena kalau tidak kembali, mereka akan kena penalti.

      Saran saya coba hubungi travel agent terdekat, semoga bisa didapatkan bantuan pengurusan visa tersebut.

  5. awal says:

    Asslmkm…..crita peerrrjalanan rohani yg mennaik – brapa Tottal habis biaya – saya ingin meencoba.. Tks – Sallam

    • Imam Suhadi says:

      Mas Koko
      Biaya paling besar adalah tiket pesawat. Saat itu kebetulan kami mendapatkan tiket murah dari airasia dan airarabia sehingga per orang habis kurang dari 9 jt.

      Saat ini saya cukup kesulitan untuk mendapat tiket semurah itu lagi.

  6. Koko says:

    Sharing nya sangat menginspirasi, kebetulan saya lagi cari info tentang umrah ala back pack, keren buanget, bagaimana biaya visa & dimana nginap murah untuk beberapa hari? trims.

    • Imam Suhadi says:

      Mas Koko
      Biaya visa sendiri murah hanya 500 rb. Hanya dimungkinkan harus ada jaminan yang diminta travel agent untuk memastikan kita kembali.

      Hotel bisa cari di agoda.com walau sebenarnya kalau tidak banyak barang bawaan bisa tidur dan bermalam diemperan Nabawi dan Masjidil Haram.

  7. abah says:

    Assalaimualaikum. Salam untuk admin blog dan pembaca sekelian.

    Pertama sekali saya mengucapkan syukur kerana terjumba blog saudara ini yang sangat bermakna bagi sayadan orang yang bercadang mengerjakan umrah ala back packer seperti saudara bertiga.
    Kedua, saya juga akan melakukan umrah ala back-packer pada pertengan januari 2014 dengan aturcara dari KUL-Jeddah-KUL menggunakan penerbangan Airasia yang telah di beli pada masa promosi awal 2013. 9 orang dalam kumpulan awal yang telah membeli tiket promo dan satu orang dengan harga biasa tetapi dkm tempoh yang panjang itu, 2 org terpaksa menarik diri atas sebab-sebab kesihatan. Allah perkenankan bilangan dgn tambahan 2 org baru pada pertengahan dis 2013 yg menjadikan bilangan kembali kepada 10 orang dgn 4L6P. Saya telah menyerahkan urusan visa dan LA di Madinah/Mekah kepada agensi umrah, tetapi hingga kesaat ini belum ada berita tentangnya. Saat ini saya menjadi cemas kerana VISA ini. Harga tiket yg bukan promosi dgn harga PP melebehi RM3200 atau IDR11j+. kalau guna travel, tentu mereka hanya akan beli tiket apabila suadah perolehi VISA.
    ketiga, Saya pohon bantuan tuanpunya vordpress ini untuk membantu saya bagi mempercepatkan visa di perolehi, juga kalau Bapak boleh bantu nasihat saya bagaiana kalau di takdirkan visa tak dapat sehingga hari keberangkatan. Kepada pembaca lain, sudilah apakiranya memberikan pengalaman umrah anda atau apa-apa yang berkaitan.
    Terima kasih kerana sudi membaca dan lebih lagi jika sudi memberikan pandangan

    • Imam Suhadi says:

      Waalaikumussalam warahmatullah
      Saya mohon maaf mereply telat, karena tidak mendapatkan notifikasi pertanyaan abah ini. Semoga perjalanan backpacker lancar.

      Saya tidak tahu bagaimana di Malaysia, untuk di indonesia pengurusan visa memang hanya dapat dilakukan via Travel Umrah. Tidak bisa ke kedubes.

      Untuk hal ini saya menyarankan sebelum membeli tiket, teman2 sudah mendapatkan channel travel yang dapat membantu teman2 untuk pengurusan visa.

  8. Umrah Persendirian says:

    Mohon laluan sedikit untuk memasukkan perkara di bawah. Terima kasih tuan rumah.

    UMRAH PERSENDIRIAN
    Ramai rakyat Malaysia yang berhajat menunaikan umrah cara persendirian. Mungkin faktor utama pemilihan UMRAH cara PERSENDIRIAN ini di sebabkan kos yang kurang dari kos mengikuti pakej di samping faktor kepuasan

    Wujudnya group telegram atas nama “Umrah Persendirian” yang saya upload terdahulu telah mendapat sambutan yang sangat tak terduga. Dalam masa dua bulan dua group telah di perlukan di mana setiap group telegram boleh menerima 200 member. Kini group ke 3 pula di mulakan
    Pertemuan Ahli UP yang sedia telah mengadakan pertemuan tidak formal sambil bersantai di Lembah Klang pada 14 sept 2014. Pertemuan ini lebih kepada pertemuan pengenalan sahaja, tetapi telah mewujudkan PRM yang ada kini.
    Atas faktor jumlah mereka yang berminat dgn umrah persendirian samaada mereka merancang menunaikan umrah cara persendirian dalam masa terdekat atau sebagai persediaan ilmu tentang cara menunai umrah persendirian di masa akan datang, mereka terus menghantar email meminta menjadi member UP.
    Bagi memenuhi jumlah permintaan yang bertambah, saya telah mewujudkan UMRAH PERSENDIRIAN dgn menggunakan “telegram” group ke 3 tetapi mengekalkan tujuan dan matlamatnya.

    Jika anda pembaca berminat menyertai “telegram ‘Umrah Persendirian’” group UP tersebut dengan syarat :
    1. beragama Islam
    2. berumur 18 tahun ke atas dan
    3. berminat menyertai

    di kehendaki memohon kepada email menyatakan hajat itu dan menyertakan no telegram kepada email : umrahsenang@gmail.com
    Ada yang bertanya, kenapa tidak di letakkan no telegram moderator;
    Jawapnya no pengguna telegram adalah hidden dan sesiapa yg berminat hendak berusaha sedikit.

    Sekian terima kasih

  9. novita_rulli says:

    Menarik sekali catatan bapak ttg perjalanan umroh dg back pack, Alhamdulillah apa yg bapak tulis hampir sama dg pengalaman saya sewaktu menjalankan ibadah umroh awal maret 2015, bersama agen umroh, setiba di tanah air, rindu untuk kembali beribadah di tanah suci semakin menjadi – jadi, dan berniat untuk melaksanakan umroh lwt back pack, krn kl sdh sampai di sana kita memang sdh punya porsi sendiri atau kebutuhan sendiri 2 dlm hal beribadah. jd teman rombongan atau biro rasanya sdh tdk begitu berguna lagi. trims atas info nya pak Imam, semoga tiap tahun bisa beribadah umroh, amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: