Kajian 1: Perbedaan Musibah dan Cobaan

Sahabatku.

Dalam kajian-kajian yang biasa saya bawakan, ketika membahas tentang ujian kehidupan, selalu saja ada peserta yang bertanya apa perbedaan antara ujian, cobaan dan musibah.

Sebahagian besar kita sebenarnya sudah dapat merasakan perbedaannya, namun strukturisasi pengetahuannya yang umumnya belum terbentuk. Strukturisasi ini bagi sebagian orang menjadi sesuatu yang sangat penting karena akan menjadi pijakan yang kuat dalam berpikir dan bersikap dalam menjalani kehidupan.

Ujian dan cobaan sebenarnya menunjuk maksud yang sama. Dalam al Quran digunakan kata fitnah dan bala. Sedangkan musibah -dalam al Quran menggunakan kata musibah– mempunyai maksud yang berbeda.

Dalam Al Quran, dikatakan:

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan mencoba  kamu dengan keburukan (syarri) dan kebaikan (khairi) sebagai ujian (fitnah). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. [QS Al Anbiyaa (21):35]

Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan kebaikan (hasanah) dan keburukan (sayyiah), agar mereka kembali. [QS Al A’raaf (7):168]

Dari kedua ayat yang saya kutip di awal tulisan ini, dijelaskan bahwa Allah mencoba manusia dengan keburukan dan kebaikan. Keburukan sering dibahasakan sebagai musibah atau bencana, sedangkan kebaikan sering disebut sebagai anugerah atau kenikmatan.

Sebenarnya dari kedua ayat tersebut kebaikan dan keburukan dibedakan penggunaan katanya. Yang pertama menggunakan khairi dan syarri, yang kedua menggunakan kata hasanah dan sayyiah. Walaupun sama-sama diterjemahkan sebagai kebaikan dan keburukan, namun sesungguhnya keduanya berbeda. Khairi dan Syarri adalah kebaikan dan keburukan yang bersumber dari luar diri kita, sedangkan hasanah dan sayyiah adalah kebaikan dan keburukan yang bersumber dari dalam diri kita.

Bentuk ujian yang paling sering kita rasakan adalah ujian berupa syarri yaitu keburukan-keburukan yang bersumber dari luar diri kita (syarri), seperti: harta yang sedikit, pendidikan rendah, sakit, dihina orang lain, karir yang tidak meningkat, kegagalan, ditinggalkan orang tua atau anak, keluarga yang tidak harmonis yang kadang berujung pada perceraian, tidak punya anak, dan lain sebagainya.

Selain ujian berupa keburukan yang bersumber dari luar diri,  terdapat pula ujian yang berupa  keburukan-keburukan yang bersumber dari dalam diri. Ini yang disebut dengan sayyiah. Contoh kita diuji oleh Allah dengan sifat-sifat buruk diri kita seperti sombong, malas, serakah, dengki, pemarah, kikir, pendendam, dsb. Tiap orang memiliki sayyiah yang berbeda-beda satu sama lainnya.

Disamping ujian berupa keburukan, kita diuji pula dengan bentuk kebaikan atau anugerah.  Sama seperti dengan ujian berupa keburukan, ujian dalam bentuk kebaikan juga ada dua jenis, yang bersumber dari luar diri kita (khairi) dan yang bersumber dari dalam diri kita (hasanah).

Ujian yang berupa kebaikan yang berasal dari luar diri kita contohnya seperti: memiliki harta yang banyak, pendidikan tinggi, kendaraan dan pakaian yang bagus, rumah yang mewah, jabatan yang tinggi, anak-anak yang hebat, istri yang cantik atau suami yang gagah, terkenal, dan lain sebagainya. Sedangkan ujian dalam bentuk kebaikan yang berasal dari dalam diri kita, seperti contohnya kita memiliki sifat rajin, jujur, dermawan, welas asih, dsb.

Sahabatku.

Banyak orang hanya melihat bahwa yang disebut ujian hanyalah yang berupa keburukan saja. Namun sedikit yang menyadari bahwa kebaikan-kebaikan, hasanah dan khairi adalah juga merupakan ujian Allah Swt. Karena tidak menyadari hal ini, sehingga tidak sedikit orang yang malah menjadi sombong dan berbangga dengan anugerah-anugerah dirinya.

Antara sayyiah dengan syarri, khairi dan hasanah sesungguhnya saling terhubung. Semuanya ujian tersebut sebenarnya bermuara kepada sayyiah kita. Munculnya sayyiah diri kita inilah yang mengotori amal-amal kita.

Sebagai deskripsi, misalnya seseorang diuji oleh Allah dengan keburukan dari luar dirinya. Contohnya dihina oleh orang lain. Akibat dihina oleh orang lain, dalam dirinya muncul kemarahan, dendam, dan kebencian yang merupakan sayyiah dirinya.  Demikian pula misalnya ketika seseorang diuji oleh Allah dengan jabatan yang tinggi (khairi) atau sifat dermawannya (hasanah). Akibat memiliki jabatan yang tinggi dan sifat kedermawanan ini tidak jarang seseorang menjadiberkembang biak kesombongannya, merasa paling hebat, ingin dihormati, ingin dipuji, dihargai, dan lain sebagainya.

Sahabatku.

Selain ujian kehidupan berupa kebaikan (anugerah) dan keburukan (musibah), Allah juga menguji manusia dengan perintah, pembolehan dan larangan.

Sejak Adam di Surga, ujian ini sudah diberikan oleh Allah Swt. Allah mengatakan :

”Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim.” [QS Al A’raaf (7):19]

Dari ayat diatas, sebenarnya sudah digambarkan bahwa yang dibolehkan oleh Allah Swt jauh lebih banyak daripada yang dilarang. Kalau kita hitung, sesuatu yang dilarang sesungguhnya sangat sedikit sekali jika dibanding dengan yang dibolehkan. Namun karena kita manusia tidak pernah merasa puas, jumlah  sedikit yang dilarang pun kita langgar.

Contohnya minuman. Allah membolehkan kita minum apa saja, kecuali yang memabukkan (khamar). Namun karena kita tidak pernah merasa puas, sedikit yang dilarang oleh Allah kita langgar. Begitu pula dengan makanan. Allah membolehkan kita makan apa saja kecuali sedikit hal saja yang dilarang. Namun karena kita tidak pernah merasa puas, kita langgar pula yang dilarang tersebut.

Demikianlah Allah menguji kita dengan perintah, pembolehan dan larangan. Orang-orang yang berupaya mencari keridlaan Allah, akan berupaya sungguh-sungguh untuk melaksanakan perintah-Nya, hanya melakukan yang dibolehkan-Nya dan menghindari diri dari yang dilarang-Nya.

Dalam kenyataan kehidupan hal ini tidak mudah. Apalagi jika sudah dikaitkan dengan ujian jenis kedua (kenikmatan dan musibah).

Ada orang-orang yang ketika dimasa lapang, sangat teguh untuk melakukan hanya yang diperbolehkan, dan menghindari yang dilarang. Ia tidak mau menipu, mencuri, dan sebagainya. Namun ketika Allah izinkan hadir dalam kehidupannya musibah kehidupan, dalam masa yang sempit, seringkali yang awalnya dihindari jadi dilakukannya juga. Orang-orang yang pernah mengalami hal ini akan merasakan perjuangan yang amat sangat berat.

Ada seseorang yang sangat memahami bahwa pergi ke dukun dilarang oleh Allah Swt. Namun ketika anak yang disayangi sakit, sementara dokter sudah tidak lagi sanggup mengobati, dan seluruh sanak saudaranya  menekan untuk melakukan perobatan ke seorang dukun, ini bukanlah hal yang mudah. Melihat penderitaan sang anak sangat menyedihkan, menghadapi seluruh sanak saudara membuat kondisi semakin berat. Ini sebuah perjuangan yang sangat berat. Tidak jarang dalam kondisi yang demikian, akhirnya  demi mencari kesembuhan, seseorang akhirnya pergi ke dukun.

Demikian pula seseorang yang mengharamkan mencuri atau berbohong. Namun ketika kondisi ekonominya sangat sulit, anak-anaknya menangis karena tidak bisa makan, sementara tidak ada orang bisa membantunya, akhirnya dengan terpaksa ia mencuri atau berbohong. Banyak lagi contoh yang lainnya.

Ketahuilah bahwa Allah akan menguji kita dengan situasi dan kondisi yang demikian, sehingga terujilah siapa yang sungguh-sungguh berjihad dan bersabar. Orang-orang yang teguh imannya, akan berupaya tetap memilih jalan yang benar dan bersabar dalam menghadapi persoalan-persoalannya. Walaupun hati dan kepala terasa akan meledak, menghadapi persoalan yang dihadapinya.

Sahabatku.

Semua muara ujian Allah tersebut sesungguhnya adalah untuk mendidik dan memperbaiki sayyiah-sayyiah dalam diri kita. Sedikit demi sedikit dengan cara-Nya yang sangat indah dan misterius, Allah Swt menyempurnakan jiwa kita.

Semoga kita semua dimasukkan oleh Allah ke dalam golongan orang yang selalu memperbaiki diri.

Salam Ikhlas!

6 Responses to Kajian 1: Perbedaan Musibah dan Cobaan

  1. yyn says:

    Dari gaya bahasanya, jadi inget blog : masjidku (imam.blogdetik.com), semoga blog ini tidak mengalami nasib yang sama dgn blog sebelumnya….hehehehe……Terimakasih atas sharing ilmunya mas imam

  2. Ini dia kajian yg saya cari2…. terimakasih banyak pencerahannya Mas Imam…

  3. supriadi says:

    mohon izin untuk di copy materi pengajiannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: