Kajian 3: Masalah Kehidupan untuk Menguji Siapa yang Baik Amalnya

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS 67:2)

Sahabatku.

Hidup dan mati kita terjadi karena Allah Swt. Demikian pula kesedihan dan kegembiraan kita, keberhasilan dan kegagalan kita, semua mewujud karena kehendak dan izin Allah Swt semata. Semua itu dijadikan oleh Allah, sesungguhnya sebagai sarana cobaan atau ujian kepada kita, siapa diantara kita yang semakin baik amalnya dari waktu ke waktu.

Membahas ujian Allah dalam bentuk kegembiraan dan keberhasilan, rasanya sangat menyenangkan. Namun tidak sedikit orang yang gagal ketika diuji dengan kegembiraan dan keberhasilan. Mereka semakin lupa, jauh dan lalai dari Allah Swt. Mungkin kita adalah bagian dari kelompok tersebut.

Ketika kita semakin lupa dan jauh dengan Allah,  dengan sangat sabar Dia menanti dan menunggu kita kembali kepada-Nya. Dia selalu melambaikan tangan-Nya melalui berbagai ayat-ayat-Nya. Dengan penuh kasih sayang, lambaian tangan-Nya dihadirkan dalam kehidupan kita, apakah dalam bentuk kegembiraan, kenikmatan, keberhasilan, agar kita memuji, memuliakan dan mengingat-Nya. Namun bila dengan bentuk tersebut kita tidak juga mengingat-Nya, maka Dia menghadirkan dalam kehidupan kita lambaian tangan-Nya dalam bentuk musibah, bencana, kesusahan dan kegagalan. Semua bentuk tersebut sesungguhnya adalah bentuk kasih sayang-Nya agar kita kembali kepada-Nya.

Sahabatku.

Tidak ada seorang pun manusia yang hidup di dunia ini tanpa masalah. Silakan dicari, apakah ada manusia yang tidak mengalami masalah kehidupan di seluruh penjuru dunia. Tidak ada! Seorang sebanyak apapun hartanya, setenar apapun ia, atau setinggi apapun jabatan dan kekuasannya, tidak ada yang terlepas dari apa yang disebut masalah. Tiap orang punya masalahnya sendiri-sendiri, satu sama lain berbeda-beda.

Masalah kehidupan merupakan sebuah sarana pendidikan dan pembentukan jiwa seorang hamba. Ibarat sebuah besi, ia harus terlebih dahulu dibakar oleh api yang panas, lalu dipukul oleh palu godam, agar terbentuk menjadi pisau, sendok, dan perabot lainnya yang berguna. Demikian pula jiwa kita, untuk terbentuk sesuai dengan apa yang Allah inginkan, ia harus dibakar dengan persoalan kehidupan dan dipukul oleh palu-palu permasalahan, sehingga terbentuklah jiwa kita sesuai dengan apa yang Allah Swt inginkan.

Respon tiap orang berbeda-beda menghadapi permasalahan kehidupan yang hadir. Ada orang yang merasa kalau mendapatkan kenikmatan, Allah sedang memuliakannya, dan kalau mendapat musibah, ia merasa Allah sedang menistakannya. Ada yang  ketika mendapatkan kenikmatan menjadi taat, tetapi kalau mendapat musibah ia berbalik ke belakang. Ada pula yan ketika mendapat kenikmatan ia lalai dan baru ingat kepadaNya ketika dihadirkan musibah. Dan yang terbaik adalah mereka yang dapat melihat bahwa baik kenikmatan ataupun bencana, semua adalah bentuk kasih sayang-Nya kepada kita.

Tidak sedikit orang-orang yang karena tidak bisa bersabar dengan masalah kehidupan yang dihadapi, berusaha sekuat tenaga dengan segala cara untuk bisa keluar dari masalah tersebut. Ia tidak peduli apakah cara yang dilakukannya benar atau salah. “Jika mungkin, aku tidak akan pernah mau bertemu dengan masalah kehidupan“, demikian apa yang ada dalam pikirannya.

Banyak orang yang tidak menyadari tujuan mulia dihadirkannya masalah kehidupan, dan ia tidak sanggup keluar darinya walau segala jerih upaya sudah dilakukannya, akhirnya berusaha lari dari situasi ini dengan mencari kegembiraan semu, narkotika, bahkan beberapa berpikir bahwa bunuh diri bisa mengeluarkan ia dari situasi tersebut.

Sahabatku.

Ketahuilah bahwa tujuan hadirnya ujian-ujian Allah itu adalah untuk menguji siapa yang semakin baik amalnya.

Ketika kita menghadapi sebuah masalah, kita harus benar-benar berhati-hati merespon dengan cara yang benar dan sebaik-baiknya. Hal ini tentu tidak mudah, himpitan masalah yang menyedihkan dan memilukan sering menghancurkan benteng pertahanan kita. Sangat tidak mudah melihat anak kita menangis tidak dapat makan, atau hubungan kita dengan istri memburuk dan harus berakhir diperceraian, menderita sakit yang tidak kunjung sembuh, ditinggal oleh orang-orang yang dikasihi, dan sebagainya. Namun sahabatku, disinilah perjuangannya. Pantaslah jika orang-orang yang berjuang untuk selalu benar walaupun diserbu oleh masalah kehidupan yang besar, disebut Allah sebagai seorang yang jihad fi sabilillah.

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS 2:154-157)

Luar biasanya kemulian para ahli musibah -orang-orang yang selalu tekun, bersabar dan mengambil pelajaran dari setiap musibah kehidupan- digambarkan dalam sebuah hadits sampai-sampai Allah pun malu untuk menghisabnya.

Rasulullah saw bersabda: “Pada hari Kiamat kelak, ditegakkanlah al-Miizan (Timbangan). Kemudian dihadirkan ahli Shalat untuk ditimbang amalnya, lalu diberikan kepada mereka pahalanya secara sempurna. Kemudian dihadirkan ahli Shadaqah untuk ditimbang amalnya, lalu diberikan kepada mereka pahalanya secara sempurna. Kemudian dihadirkan ahli Shaum untuk ditimbang amalnya, lalu diberikan kepada mereka pahalanya secara sempurna. Kemudian dihadirkanlah ahli Musibah, namun amal mereka tidak ditimbang dan catatan mereka tidak diperiksa, bahkan mereka diberi pahala yang tanpa batas, sehingga mereka yang dulunya tidak pernah tertimpa musibah mengharapkan sekiranya mereka dahulu termasuk golongan orang-orang yang tertimpa musibah, dikarenakan banyaknya balasan yang diterima oleh para ahli Musibah”.  (Hadits diambil dari buku “Nashaihul Ibaad”, Imam Nawawi Al-Bantani)

Sahabatku.

Disamping tetap berusaha melakukan amal dengan benar dan sebaik-baiknya, ketika kita mendapat ujian kehidupan, seharusnya kita berintrospeksi diri. Kebiasaan kita untuk mengelak dan mencari kambing hitam, hanya akan menyebabkan kita tidak dapat melihat keburukan diri kita. Butuh kejujuran dan keberanian yang besar untuk sekedar berkaca, bahwa ada sesuatu dalam diri kita yang harus diperbaiki.

Kadang perbaikan yang harus kita lakukan dalam tingkatan perilaku, namun ada juga perbaikan yang yang harus kita lakukan ada dalam tingkatan cara pandang dan niat. Bahkan sebagian besar (baca: sebagian besar!) masalah kehidupan kita ditujukan untuk memperbaiki aspek-aspek bathiniah seperti niat kita yang kurang ikhlas, atau hati kita yang pemarah dan kurang sabar, serta hal-hal lainnya. Kenapa demikian? Karena aspek bathiniah ini adalah jiwa dari seluruh amal kita. Sebagaimana Rasulullah Saw katakan: “Setiap amal tergantung dari niatnya” (HR Muslim).

Mengurai apa yang harus diperbaiki, seperti -bahkan lebih dahsyat dibandingkan- menelusuri game-game petualangan komputer. Penuh misteri dan teka-teki. Sadar atau tidak disadari, petulangan mengungkap misteri dan teka-teki itu akan merubah kualitas amal-amal kita.

Jika proses ini terus berlangsung, maka akan terjadi sebuah proses perbaikan kualitas amal secara terus menerus. Banyak orang yang sebelumnya pemarah dan pendendam, tiba-tiba saja menyadari dirinya menjadi lebih pemaaf dan penuh kasih sayang setelah ditempa oleh Allah dengan berbagai bentuk ujian misalnya orang tua yang sakit panjang, atau dikaruniani anak berkebutuhan khusus, dsb. Adapula orang yang sangat kikir dan tamak, baru menyadari dirinya lebih dermawan setelah melewati serangkaian ujian Allah dalam bentuk ditipu orang, usaha yang selalu gagal, dan lain sebagainya.

Semoga kita termasuk dalam golongan ahli musibah, yaitu orang-orang yang selalu mengambil pelajaran dari segala musibah yang diizinkan hadir oleh Allah ke dalam kehidupan kita.

Salam Ikhlas!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: