Kajian 4: Cobaan Selalu Hadir Sampai Tidak Ada Kesalahan Lagi

Sahabatku.

Setiap manusia lahir dalam keadaan suci bersih. Namun karena sejak kecil, tanpa disadari kita mengikuti keinginan-keinginan hawa nafsu kita, menyebabkan hati kita sedikit demi sedikit tertutup noda-noda dosa.

Proses ini terjadi disetiap manusia. Sehingga ketika memasuki usia baligh (berakal), kondisi hati kita tertutup, namun kebanyakan kita tidak menyadarinya. Itulah sebabnya, di awal-awal surat Al-Baqarah, Allah menjelaskan tentang orang tertutup hatinya, buta, dan tidak mendengar tetapi tidak menyadari. Sesungguhnya dengan ayat-ayat ini Allah sedang menyentil kita.

Namun sayangnya apa karena kurang sensitif atau karena kita ke-geer-an menyangka itu bukan untuk diri kita, ketika kita membaca ayat ini, pikiran kita selalu melayang ke teman-teman atau tetangga kita yang beragama lain. Sehingga akhirnya, kita tidak beroleh manfaat dari peringatan Allah Swt ini.

Sahabatku.

Kalau kita menyadari tentang peringatan ini, tentu kita akan bersemangat untuk mencari informasi bagaimana untuk bisa keluar dari kondisi seperti itu. Kita akan berusaha menelusuri ayat-ayat al-Quran dan juga hadits untuk mendapatkan jawabannya.

Dan kalau kita menelusuri ayat-ayat al-Quran kita akan mendapatkan jawaban bahwa untuk dapat keluar dari kondisi tersebut adalah dengan taubatan nasuuha. Taubat yang sungguh-sungguh.

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” [QS At-Tahrim (66):8]

Proses taubatan nasuuha, terdiri dari 3 komponen utama, menyesali, tidak mengulangi kesalahan dan melakukan perbaikan diri. Tidak mengulangi dan melakukan perbaikan diri ini merupakan bahagian dari apa yang dibahasakan dalam al-Quran sebagai hijrah dan amal shalih.

Ketika seseorang berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan dan melakukan perbaikan diri, Allah akan menguji orang tersebut. Orang-orang yang sungguh-sungguh ingin memperbaiki diri akan berusaha maksimal untuk memperbaiki diri.  Usaha maksimal sepenuh hati untuk tetap dalam kebenaran ini yang dibahasakan sebagai jihad.

Dan sesungguhnya kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan tentang hal ihwalmu. [QS Muhammad (47):31]

Dengan ujian ini, proses perbaikan diri terjadi, bahkan seringkali tanpa disadari. Dimana kesadarannya baru terjadi belakangan. Dengan ujian-ujian itu, Allah menancapkan pemahaman dan kesadaran ke dalam hati kita, dengan ujian-ujian itu Allah mencelupkan diri kita pada pemahaman dan kesadaran yang benar.

Celupan Allah. Dan siapakah yang lebih baik celupannya dari pada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah. [QS Al Baqarah (2):138]

Banyak kesalahan-kesalahan yang kita sadari, namun lebih banyak lagi kesalahan dan keburukan yang tidak kita sadari. Banyak sebab kita tidak menyadarinya, diantara yang utama karena kita lebih gemar mengurusi keburukan orang lain daripada keburukan diri sendiri. Ada juga disebabkan kita menutupinya rapat-rapat, dengan tujuan agar orang lain tidak mengetahuinya.

Sahabatku.

Ada kesalahan dan dosa-dosa yang ringan, yang segera dihapus dan dibersihkan oleh Allah ketika seorang istigfar, memohon ampun kepada-Nya. Tetapi banyak kesalahan dan dosa yang besar yang sudah berakar kuat, yang hal ini tidak dapat dibersihkan dengan hanya istigfar, shalat, puasa atau sedekah. Ia harus dibersihkan dengan dicabut sampai ke akar-akarnya, agar tidak tumbuh lagi dan tumbuh lagi. Sebagaimana sebuah pohon besar yang akarnya sudah tertancap kokoh ke bumi, sangat sulit dicabutnya. Atau gigi geraham yang besar dan berakar besar lebih sulit dicabutnya dibandingkan dengan gigi seri. Kita akan merasakan rasa sakit yang luar biasa ketika ia dicabut dari tempatnya.

Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya diantara dosa-dosa itu ada yang tidak dapat dihapus oleh shalat, puasa, haji, dan umrah. Akan tetapi dosa-dosa itu hanya dapat dihapus dengan kesulitan dalam menjalani (mencari) kehidupan.” (HR Ibnu ‘Asakir)

Demikian pula dengan kesalahan dan dosa yang besar dan berakar, akan dicabut oleh Allah dengan musibah-musibah yang dihadirkan dalam kehidupan kita. Semakin dalam dan kuat akarnya, semakin besar pula musibah yang dihadirkan. Kita akan merasakan rasa sakit yang luar biasa, saat ia dicabut dari hati kita.

Seringkali untuk menyadarkan kesalahan dan keburukan yang kita tidak sadari, kita simpan rapat-rapat, atau sudah berakar sangat kuat dalam hati kita, Allah Swt memunculkannya mewujud menjadi persoalan dalam kehidupan kita, sebagai cermin untuk kita menyadarinya.

Contohnya, seseorang yang pendengki. Orang lain tidak ada yang tahu kalau ia seorang pendengki, bahkan istrinya. Ia menutupnya dengan rapat, sehingga tidak ada orang yang mengetahuinya. Namun Allah Yang Maha Mengetahui, tidak menginginkan sifat dengki ini bersemayam dalam hati seorang hamba. Apalagi jika ia orang yang ingin bertaubat. Maka Allah menyadarkan orang tersebut tentang sifat dengkinya, melalui persoalan kehidupan. Apakah berupa tetangga-tetangganya yang lebih berhasil dari dia, atau teman-teman kantornya yang mendapat penghargaan walaupun tidak bekerja lebih baik dari dia. Ada lagi seorang yang kikir, dimana agar ia menyadarinya, Allah menghadirkan permasalahan kehidupan seperti sering ditipu orang, memiliki barang yang mudah rusak, dan lain sebagainya. Banyak lagi contoh lainnya.

Semua sifat-sifat buruk kita yang tidak disukai Allah, akan dimunculkan oleh Allah melalui persoalan-persoalan kehidupan, agar kita menyadari dan selanjutnya men-taubatinya. Dapat kita bayangkan jika kita memiliki 1000 keburukan yang tersimpan di hati, maka Allah Swt akan memberikan 1000 jenis musibah untuk menyadarkan kita tentang keburukan-keburukan tersebut. Satu per satu musibah diberikan, sampai akhirnya tidak ada lagi sebuah keburukan pun dalam hati seorang hamba. Dalam kondisi seperti inilah seseorang dapat selamat sejahtera, ketika kembali kepada Allah Swt.

Nabi Saw bersabda: “Cobaan tetap akan menimpa seorang mukmin dan mukminah, dari anak dan juga hartanya, sehingga ia berjumpa dengan Allah dan pada dirinya tidak ada lagi satu kesalahan”. (HR Tirmidzi, Ahmad, Hakim)

Sahabatku.

Proses pembersihan dosa dan kesalahan ini saya ibaratkan dengan beberapa analogi.

Analogi pertama, seperti botol yang kotor berlumut. Untuk membersihkannya kita harus menggunakan air, sikat, pasir atau kerikil, serta detergen. Botol harus digosok keras-keras atau dikocok kerasa-keras agar kotoran dan lumut yang menempel luruh. Kalau kotoran tersebut sudah sangat lama, proses harus dilakukan berulang-ulang sampai benar-benar bersih.

Musibah yang dihadirkan Allah ibarat sikat, pasir atau kerikil, detergen dan air yang digosokkan dan dikocok-kocokan dengan keras agar dosa-dosa yang menempel di hati luruh. Proses ini terjadi terus menerus dan berulang-ulang sampai botol kembali menjadi bersih. Inilah sebenarnya tujuan mulia Allah menghadirkan berbagai persoalan dalam kehidupan kita. Dia menginginkan hati kita bersih, sehingga dapat mendekat kembali kepada-Nya. Karena itu Allah mengatakan:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. [QS Al Baqarah (2):216]

Analogi kedua, seperti sebuah besi yang penuh karat. Untuk dapat besi itu bersih dari karat, ia harus diamplas dengan amplas yang kasar. Jika dengan amplas, karat-karat tersebut tidak juga luruh, maka harus dibakar dengan api yang sangat panas, sehingga luruhlah karat-karat tersebut.

Musibah dihadirkan Allah ibarat amplas dan api. Kita akan merasakan sakit ketika diamplas, dengan amplas yang kasar. Dan akan semakin terasa sakit dan panasnya ketika dibakar dengan api yang sangat panas. Namun sekali lagi, hal ini sesungguhnya adalah wujud kasih sayang Allah, karena Dia menginginkan kita bersih dapat dekat dan kenal dengan Dia Ta’ala.

Sahabatku.

Beratnya urusan ini menyebabkan sangat sedikit orang yang ingin menempuh jalan taubat ini. Hanya orang-orang yang sungguh-sungguh mencintai Allah dan Rasul-Nya  yang bersedia menapaki jalan ini. Jalaluddin Rumi mengatakan jalan ini adalah jalan para ksatria, karena sesungguhnya hanya para ksatria yang rela berperang, hidup susah dan penuh penderitaan, agar bangsa dan tanah airnya merdeka.

Semoga kita termasuk ke dalam golongan para ksatria.

Salam Ikhlas!

10 Responses to Kajian 4: Cobaan Selalu Hadir Sampai Tidak Ada Kesalahan Lagi

  1. bayu says:

    musibah jangan selalu diartikan dengan kekotoran hati. Kasihan bagi orang-orang yang hatinya tertutup tapi kuncinya masih ada, belum dikunci mati oleh Alloh.
    Masalah hati sebagai wadah, dan isinya Alloh yang mengisinya sehingga bila hati itu diikat, dikuatkan dengan diisi oleh Alloh maka hati itu tegar.mantap menerima Hidayah.

    Apakah setiap kotoran hati harus menjadi musibah ? lalu dimanakah Rahmat Alloh bagi hambanya yang bertobat ?

    bayu

    • imamsuh4di says:

      Kata-kata dikunci mati hanya penerjemahan dalam bahasa Indonesia saja untuk kata *khatama* yang arti asalnya adalah *ditutup*. Tentu walau sudah tertutup hati kita oleh noda dosa, jika kita mau mengambil pelajaran dan memperbaiki diri akan menyebabkan sedikit demi sedikit hati kita terbuka kembali.

      Persoalan mendasarnya adalah karena banyak orang tidak menyadari bahwa musibah yang mewujud dalam hidupnya adalah cerminan *keburukan* yang dalam hatinya, maka ketika seorang mendapatkan musibah, ia tidak pernah berusaha mengambil pelajaran darinya.

      Jika saja kita mengambil pelajaran dari musibah-musibah tersebut, maka Rahmat Allah akan hadir. Dengan rahmat-Nya, kotoran-kotoran yang ada dihati disucikan. Namun jika kita tidak mengambil pelajaran, maka musibah tersebut lebih akan dirasakan sebagai azab saja.

      Hal ini mungkin dapat kita lihat dari QS 2:155-157:

      Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat shalawat dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS 2:155-157)

      Dari 3 ayat tsb, kita melihat tahapannya sbb:

      Musibah (cobaan) –> sabar (mengambil pelajaran) –> shalawat dan rahmat Allah

  2. Muhammad says:

    Boss…
    1) Antum menganalisis dosa seperti melakukan analisis kimia. Itu namanya bukan qiyas.
    2) Antum membuat ekuivalensi antara dosa dengan musibah sebagai kompensasinya. Konsekuensi logis dari statement tsb adalah bahwa Allah SWT hanya akan mengkompensasi dosa dengan musibah. Ini sangat bertolak belakang dengan banyak nash Al Quran maupun Hadits.
    3) Sudah jelas dalam beberapa ayat Al Quran dijelaskan bahwa hidup ini diciptakan tiada lain hanyalah sebagai ujian. Allah SWT pasti akan menguji manusia dengan sebenar-benar ujian. Sedangkan antum memandang setiap apa yang ditimpakan Allah SWT kpd hamba-Nya itu hanya sebagai kompensasi dosa. Sampai antum bisa menyimpulkan jika ada 1000 dosa maka hanya bisa terhapus setelah ditimpa 1000 musibah. Analisis macam apa ini?
    4) Antum lupa bahwa rentang antara waktu sholat yang satu dengan waktu sholat berikutnya adalah penghapus dosa. Antum lupa bahwa setiap hamba yg bersungguh-sungguh saum dan qiyam di bulan Ramadhan maka Allah SWT akan menghapus dosa-dosanya yang telah lalu. Bukankah ini rahmat dari Allah SWT? Bahkan amalan kita pun belum tentu sanggup untuk membayar tiket ke surga. Semuanya hanya dengan rahmat Allah SWT.

    Saya juga sarjana dengan latar belakang penelitian chemical, tapi tidak berani membahas masalah ini dengan pendekatan analisis kimiawi.

    Berpikirlah sebelum menyampaikan, karena orang awam akan menerimanya mentah-mentah.Wallahu’alam…

    • Imam Suhadi says:

      Terimakasih mas Muhammad atas kesediaannya mampir di website ini.

      1. Benar banyak analogi-analogi (qiyas) yang saya lakukan untuk memahami kehidupan ini. Dengan analogi-analogi yang relatif sederhana, supaya saya dan semoga pembaca lebih mudah memahami strukturisasinya.

      2. Walaupun dengan analogi tetap semua analogi tsb saya turunkan dari referensi Quran atau Hadits yang ada. Dipersilakan umpan baliknya jika ada referensi yang tidak tepat saya pahami. Tidak usah sungkan, bisa langsung spesifik kepada referensi-referensinya, pasti akan sangat bermanfaat untuk saya.

      3. Terkait dengan hal ini, apakah ada yang tidak selaras dengan referensi yang ada mas Muhammad? Mohon pencerahannya.

      4. Betul itu semua adalah bentuk rahmat Allah Swt. Dalam artikel ini juga dijelaskan bahwa ada dosa-dosa yang diampuni Allah dengan istigfar (shalat, puasa, include di dalamnya). Namun saya sampaikan bahwa tidak semua dosa terampuni dengan itu. Ada referensinya, silakan dibaca ulang artikel ini.

      Boleh tahu, apa yang dimaknai Mas Muhammad sebagai rahmat Allah?

  3. Fillah says:

    Alhamdulillah … terima kasih pak Imam. Ada beberapa hal yang selama ini belum saya pahami. Dengan membaca kajian 4 ini saya bisa paham.

    Mengenai komentar dari pak Muhammad, saya hanya bisa tersenyum saja …

  4. entuy says:

    Ass…pa imam, saya ingin bertanya mengenai Hadis Nabi SAW tentang dosa-dosa yang tidak dapat dihapus oleh shalat, puasa, haji, dan umrah, akan tetapi hanya dapat dihapus dengan kesulitan dalam menjalani (mencari) kehidupan. Contohnya dosa-dosa apa saja ya. Tks

    • Imam Suhadi says:

      Pak Entuy
      waalaikumussalam warahmatullah

      Contoh “kemalasan” pak Entuy. Walau dalam realisasinya tentu tidak sesederhana tsb ya.

      Hal terpenting dari hadits dan penjelasan ini adalah kita menjadi lebih mawas diri bahwa perlu penyeimbangan antara sesuatu yang mahdoh (ritual) dan ghairu mahdoh (non ritual(. Antara yang lahir dan yang bathin.

  5. norhayatihaidir says:

    As Salam saya mahu tanya???…sebelum tu saya ucapkan Ribuan Terima Kasih buat pak imam..Selepas saya baca ni hati saya berkata memang banyak betulnya…Saya salah seorang Perlaku dosa yang mana satu tahap saya berkata dalam hati,Adaka TAUBAT saya di terima???saya sekarang mejangkau usia 23 tahun dan selama 23 tahun itu jugala saya sering lakukan dosa…Sekarang saat saya baru mula mendekatkan diri kepada Allah S.W.T …Banyak musibah ,dugaan kesukaran hidup saya tempuh …Habis satu,satu lagi datang…Saya hampir berputus asa..Dalam selepas solat saya tidak putus2x berdoa agar Taubat saya di terima…Saya just nak tanya adaka dengan musibah dosa saya serba sedikit di ampunkan?? Dan adaka ia akan berterusan musibah itu??

    Putri,

    • Imam Suhadi says:

      Waalaikumussalam warahmatullah

      Allah sangat bergembira menerima orang yang bertaubat melebihi kegembiraan orang yang kehilangan unta di padang pasir dan tiba2 melihat untanya kembali.

      Sebesar apapun dosa yang kita lakukan, Allah akan sangat bergembira jika kita ingin memperbaikinya.

      Musibah2 kehidupan sesungguhnya hadir dengan izin Allah (QS 64:11). Semua musibah tersebut hadir sebagai jalan untuk menyadarkan kita, membersihkan kesalahan kita, mendidik dan membentuk jiwa kita. Namun tidak mungkin jiwa kita akan dibersihkan jika kita tidak menyadari apa maksud dibalik ujian tersebut hadir.

      Agar kita dapat memahami maksud dibalik musibah, kita harus berupaya sabar dan tidak mengeluh ketika dihadirkan musibah dalam hidup kita. Sambil terus berdoa agar Allah berkenan mengampuni dan menyempurnakan diri kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: