Kajian 6: Musibah Jalan Mengenal Diri

Sahabatku.

Tujuan manusia diciptakan selain untuk menjadi abdi (hamba) Allah, juga menjadi khalifah Allah. Hal ini berbeda dengan jin yang diciptakan hanya untuk menjadi hamba Allah, tanpa memiliki tugas ke-khalifahan.

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. [QS Adz Dzaariyaat (51):56]

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” [QS Al Baqarah (2):30]

Menjadi khalifah Allah secara umum bermakna menjadi wakil Allah Swt di muka bumi, yang bertujuan untuk memakmurkan bumi.

 Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat lagi memperkenankan.” [QS Huud (11):61]

Setiap manusia tidak sermat merta menjadi khalifah, tetapi setiap manusia mempunyai potensi sebagai khalifah. Dari ayat di atas ditegaskan bahwa hanya orang yang memohon ampun dengan sungguh-sungguh, bertaubat dan mengabdi kepada Allah sajalah yang dapat menjadi khalifah-Nya.

Banyak diantara kita merasanya telah memakmurkan bumi, padahal sesungguhnya malah merusak bumi. Hal ini terjadi karena dalam kehidupan kita, bukan Allah sesungguhnya yang menjadi tuhan kita, tetapi kehormatan diri (ego) dan materi yang sesungguhnya menjadi tuhan kita.

Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. [QS Al Baqarah (2):11-12]

Sahabaku.

Jika seorang manusia mengabdi kepada Allah, melakukan taubat dengan sungguh-sungguh, sehingga terjadi penyempurnaan jiwanya, maka bukan saja ia akan dirahmati Allah dan dibersihkan dosa-dosanya, namun ia akan dididik, ditempa dan dibentuk untuk urusan (amr) apa ia dihadirkan ke muka bumi. Amr dalam beberapa literatur dibahasakan dengan misi hidup atau hal ihwal diri.

Tiap manusia sesungguhnya mempunyai misi hidup yang berbeda-beda satu sama lainnya. Tidak ada yang sama. Misi hidup inilah yang dalam hadits dibahasakan sebagai kemudahan untuk apa seseorang dicipta.

Seseorang bertanya: “Yaa Rasulullah! Adakah telah dikenal para penduduk surga dan para penduduk neraka?”. Jawab Rasulullah Saw, “Ya!”. Kemudian kembali ditanyakan, “Kalau begitu apalah gunanya lagi amal-amal orang yang beramal?”. Beliau menjawab: “Masing-masing bekerja sesuai dengan untuk apa dia diciptakan atau menurut apa yang dimudahkan kepadanya.” (HR Bukhari)

Seseorang bertanya: “Yaa Rasulullah, apa dasarnya kerja orang yang bekerja?”. Beliau Saw menjawab, “Setiap orang dimudahkan mengerjakan apa yang Dia telah ciptakan untuk itu.” (HR. Bukhari)

“Sesungguhnya usaha kamu berbeda-beda. Adapun orang yang berderma dan bertaqwa, dan membenarkan kebaikan, maka Kami menyiapkan baginya jalan yang mudah. Adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan kebaikan, maka Kami menyiapkan baginya jalan yang sukar, dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa. [QS Al-Lail (92) : 4-11]

Imam al Ghazali dalam Kitabnya Kimiyatussaadah mengatakan: “Barangsiapa Mengenal dirinya akan mengenal Tuhannya“. Mengenal diri dimaksud disini bukan sekedar mengenal bentuk raga dan anatominya, tetapi lebih dari itu mengenal jiwa (al-nafs) yang melakukan persaksian kepada Allah, sebelum manusia dilahirkan. Dan pengenal terhadap al-nafs termasuk di dalamnya pengenalan terhadap urusan misi hidup (amr) dari masing-masing jiwa dihadirkan ke muka bumi ini.

Sahabatku.

Misi hidup sangat spesifik antara satu individu dengan individu lainnya. Sebagaimana seekor bebek, ayam dan burung, walaupun sama-sama memiliki sayap namun berbeda satu sama lainnya. Seperti seekor keledai dan kuda, walaupun ada kesamaan bentuk namun berbeda kemampuannya. Seperti gelas dan cangkir. Walaupun sama-sama untuk minum tetapi beda peruntukannya.

Ketika seseorang bekerja dan berkarya sesuai dengan misi hidupnya, maka ia akan diberikan kemudahan-kemudahan. Semakin jauh dari misi hidupnya, ia hanya akan mendapatkan kesulitan dan kesusahan. Sebagaimana kisah seorang Abdurrahman bin Auf yang diberi kemudahan oleh Allah dalam berniaga, maka dimanapun ia berniaga ia selalu dimudahkan dan berhasil. Namun sebaliknya Ali bin Abi Thalib selalu merugi ketika berdagang. Karena berbeda dengan Abdurrahman bin Auf, Ali bin Abi Thalib tidak diberikan kemudahan untuk berniaga, tetapi beliau diberi kemudahan oleh Allah dibidang keilmuan, sehingga dikatakan oleh Rasulullah Saw: “Aku adalah kota ilmu, dan Ali adalah kuncinya“.

Kita akan semakin mendapatkan gambaran yang utuh tentang misi hidup dengan melihat bagaimana karakter Nabi-nabi yang diceritakan dalam al-Quran. Bagaimana seorang Yusuf as, yang diberi kemudahan untuk mentakwilkan mimpi dan menjadi seorang pemberi nasihat (wazir) raja. Demikian pula seorang Musa as, yang walaupun sulit dalam berkomunikasi namun seorang pemimpin perjuangan yang hebat yang membebaskan bangsa Bani Israil dari perbudakan bangsa Mesir. Juga seorang Daud as dan Sulaiman as, yang menjadi seorang raja yang menyatukan dan mengangkat kemuliaan bangsa Israil.

Sahabatku.

Setiap manusia ketika lahir ke dunia ini, jiwanya bagaikan sebatang besi yang siap untuk dibentuk menjadi apapun. Ia siap dibentuk menjadi sebuah pedang, arit, linggis, pacul, sendok, garpu, pisau, serta perkakas lainnya.  Dan Allah Swt sudah melekatkan misi pada setiap jiwa, ada yang akan dibentuk-Nya menjadi pedang, ada yang sebagai arit, ada yang sebagai linggis, dan lain sebagainya. Semua punya tujuan yang berbeda-beda.

Tetapi karena pengaruh pendidikan dan lingkungan, kerelaan ia untuk diperbudak oleh ego (al-hawa) dan sifat kebendaan (asy-syahwat), sebuah jiwa yang disiapkan untuk menjadi sendok, dibentuk sebagai cangkul. Sebuah jiwa yang disiapkan untuk menjadi pisau, dibentuk menjadi pedang. Sehingga malah menjadi rusak bentuknya. Terlebih lagi karena kesalahan-kesalahan yang dilakukan, menyebabkan karat-karat tebal meliputinya.

Karena tidak sesuai dengan tujuan penciptaan-Nya, maka Allah Swt akan mengembalikan setiap jiwa untuk kembali kepada tujuan penciptaannya. Jiwa yang tujuan diciptakan untuk menjadi pedang diarahkan kembali untuk menjadi pedang, yang ditujukan untuk menjadi linggis diarahkan kembali untuk menjadi linggis. Karena hanya dengan bentuk yang sesuai dengan tujuan penciptaannya sajalah, seorang manusia dapat menjadi khalifah Allah sejati.

Berbeda dengan manusia yang menganggap pedang lebih mulia daripada pisau, yang menganggap sendok lebih punya peran penting daripada garpu, bagi Allah Swt manusia mencapai kemuliaannya adalah ketika ia sesuai dengan tujuan penciptaannya.

Sayangnya, manusia karena pikiran dan penglihatannya telah ditipu oleh unsur-unsur ragawi, sehingga sering memiliki keinginan untuk menjadi sesuatu yang dipandang hebat dalam pandangan manusia. Orang berlomba-lomba menjadi presiden, anggota dewan, pejabat, pengusaha sukses, selebriti dan berbagai peran yang dianggap sebagai sebuah kemuliaan. Tidak ada, atau sedikit sekali orang yang bercita-cita menjadi seorang guru atau petani, kalaulah bukan karena keterpaksaan. Padahal sekali lagi, bagi Allah kemuliaan adalah ketika seseorang menjadi untuk apa yang ia diciptakan untuknya.

Ketika seseorang menjadi sesuatu yang dimudahkan bagi Allah untuknya, ia akan menjadi citra Allah dibidang itu. Allah akan memberikan berbagai macam kemudahan baginya. Ketika ia memang diciptakan untuk menjadi seorang guru, maka Allah akan memberikan kemudahan-kemudahan untuk memahami latar belakang dan situasi anak didiknya, ia akan diberikan kemudahan cara mendidik, sehingga hasilnya akan memberikan manfaat yang demikian besar untuk pemakmuran bumi. Demikian pula jika seseorang dicipta untuk menjadi seorang petani, maka Allah akan memberikan kemudahan-kemudahan kepadanya dalam bertani, dalam memahami struktur tanah, pembenihan, pemupukan, dan sebagainya sehingga akan memberikan manfaat yang besar bagi pemakmuran bumi.

Sahabatku.

Ujian Allah, utamanya yang berupa musibah, sesungguhnya adalah jalan untuk mendidik, menempa dan membentuk kembali jiwa kita agar sesuai dengan tujuan penciptaan kita, hal ihwal diri kita.

Dan sesungguhnya kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan tentang hal ihwalmu. [QS Muhammad (47):31]

Tentu hal ini tidak mudah. Sebagaimana seatang besi yang diperuntukkan untuk menjadi pisau, sudah berubah bentuk menjadi garpu. Sebatang besi yang diperuntukkan menjadi pedang, sudah berubah bentuk menjadi menjadi pacul. Kita akan mengatakan tentu akan lebih mudah sekiranya masih berbentuk sebatang besi apa adanya. Ya, benar sekali. Namun demikianlah yang terjadi pada kebanyakan kita. Karenanya penempaan dan pembentukan ulang yang dilakukan Allah Swt akan dirasakan lebih keras dan berat.

Sangat sedikit yang menyadari musibah-musibah yang hadir dalam kehidupan kita selain membersihkan dosa-dosa kita, juga untuk menempa dan membentuk jiwa kita sesuai dengan tujuan penciptaan. Api musibah yang sangat panas, sesungguhnya meleburkan jiwa kita agar dapat ditempa menjadi bentuk yang diinginkan. Pukulan palu godam musibah yang sangat keras dan menyakitkan sesungguhnya sebuah bentuk penempaan agar jiwa kita terbentuk seperti keinginan Allah menghadirkan kita ke muka bumi.

Saya memberikan contoh sebagai berikut:

Misalnya seseorang yang tidak diciptakan untuk tujuan berdagang (berbisnis), maka ketika ia melakukan usaha dagang, bukan keberhasilan yang didapatkan malah kerugian. Walaupun ia sudah memperbaiki strateginya, caranya berbisnis, cara melayaninya, dsb, namun tetap saja kerugian yang didapatkan bukan keuntungan. Sangat mungkin kegagalan-kegagalan ini merupakan  penjagaan dari Allah, agar kita memilih jalan yang sesuai dengan tujuan penciptaan diri kita.

Contoh lainnya, seorang yang sebenarnya dicipta oleh Allah untuk menjadi seorang petani. Namun karena pekerjaan petani bukanlah pekerjaan yang prestis di mata masyarakat, ia lebih memilih menjadi seorang karyawan pekerja kantoran. Karena ia tidak dicipta untuk menjadi seorang karyawan pekerja kantoran, maka ia tidak mendapatkan kemudahan-kemudahan. Prestasinya biasa-biasa saja, karirnya tidak berkembang dengan baik sebagaimana teman-teman seangkatannya.

Jika kita tidak menyadari ini, kita hanya akan merasakan rasa sakit demi rasa sakit saja ketika gagal dan merugi dari satu bisnis ke bisnis lainnya atau ketika mendapati karir kita sebagai pekerja kantoran mandeg (tidak berkembang). Dan akhirnya hidup kita hanya diisi dengan keluhan demi keluhan. Padahal jika kita menyadarinya, kita akan terus menerus bersyukur kepada-Nya karena sesungguhnya kita selalu diberi tuntunan yang sangat dekat untuk memahami diri kita serta untuk apa kita dicipta ke muka bumi ini.

Sahabatku.

Orang-orang yang bekerja sesuai dengan misi hidupnya akan cemerlang. Hal ini karena ia diberikan kemudahan demi kemudahan oleh Allah dibidangnya. Ia menjadi wakil dan respresentasi Allah dalam bidang tersebut di muka bumi.

Seorang pemimpin yang memang berkarya sebagai seorang pemimpin, akan dapat menyelesaikan permasalahan-permasalahan bangsanya dengan baik. Sehingga keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat dapat dicapai. Seorang ilmuwan yang memang berkarya sebagai seorang ilmuwan, akan menemukan banyak penelitian yang memberikan maslahat besar bagi kehidupan masyarakat, karena ia diberikan kemudahan-kemudahan oleh Allah Swt dalam bidangnya.

Itulah sebabnya, ulama-ulama Islam beberapa generasi setelah Nabi Saw dikenal sebagai orang-orang yang meletakkan pondasi besar bagi pemakmuran bumi. Contoh al-Khawarizmi yang meletakkan dasar ilmu matematika, yang selanjutnya menjadi dasar pada ilmuwan belakang ini untuk menemukan penelitian-penelitian besar dalam bidang fisika, kimia, dsb. Mungkin sekarang ini kita belum akan pernah mengenal televisi, handphone, atau komputer, seandainyabeliau tidak meletakkan dasar fundamental ilmu matematika. Atau contoh lainnya seorang Ibnu Siena yang telah meletakkan dasar ilmu kedokteran modern.

Sahabatku.

Pentingnya memahami urusan amr ini, Allah menuntun kita untuk selalu berdoa: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk dalam amr kami.” [QS Al Kahfi (18):10]

Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang memahami amr, hal ihwal tujuan penciptaan diri kita ke dunia ini.

Salam Ikhlas!

3 Responses to Kajian 6: Musibah Jalan Mengenal Diri

  1. Arham says:

    Misi hidup secara umum hanya ada dua, Menjadi hamba yg bertakwah dan Khalifah yg memakmurkan bumi. Dalam keadaan apapun kita diciptakan, di daerah manapun kita dilahirkan, kita ttp punya kewajiban untuk ttp mengemban misi hdp yg mulia ini, sll mengabdi kepadaNya dan bertindak sebagai “wakilNya” dibumi.

    Tidak ada dalil yg sangat spesifik menerangkan akan adanya misi tertentu seseorang diciptakan. Abdurrahman bin Auf memang lihai berdagang karena keturunan dan hidup ditengah-tengah saudagar. Lain dengan Imam Ali yg sll bergelut dengan ilmu sehingga dijuluki “babun ‘ilm”.

    Tapi tidak menutup kemungkinan bahwa Ali-mialnya- pun bisa menjadi seorang saudagar ulung dan sebaliknya Abdurrahman, jika mau telaten mempelajarinya. Pada initinya, kita semua bisa menguasai suatu pekerjaan-tanpa terkecuali-jika kita mau melakoninya dengan baik dan sungguh2.

    • Imam Suhadi says:

      Mas Arham, dalilnya hadits di atas:

      Seseorang bertanya: “Yaa Rasulullah! Adakah telah dikenal para penduduk surga dan para penduduk neraka?”. Jawab Rasulullah Saw, “Ya!”. Kemudian kembali ditanyakan, “Kalau begitu apalah gunanya lagi amal-amal orang yang beramal?”. Beliau menjawab: “Masing-masing bekerja sesuai dengan untuk apa dia diciptakan atau menurut apa yang dimudahkan kepadanya.” (HR Bukhari)

      Seseorang bertanya: “Yaa Rasulullah, apa dasarnya kerja orang yang bekerja?”. Beliau Saw menjawab, “Setiap orang dimudahkan mengerjakan apa yang Dia telah ciptakan untuk itu.” (HR. Bukhari)

      Dari hadits ini dijelaskan bahwa tiap manusia punya kemudahan masing-masing dalam bekerja/urusan hidupnya di muka bumi.

      • who am I says:

        Kalau orang kulit hitam banyak yg mengandalkan ototnya,orang kulit putih lebih mengandalkan otaknya.u/ hidupnya. Harusnya org kulit coklat (adam) bisa mengandalkan keduanya.Trims

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: