18 Tahun Masjid Syamsul Ulum

Rabu, 26 September 2012 malam, saya dikontak Jamil (pengurus DKM Syamsul Ulum) melalui jejaring social, Facebook, untuk membuatkan tulisan tentang kilas balik Masjid Syamsul Ulum. Saya sangat tertarik atas tawaran tersebut. Paling tidak saya berpikir, tulisan ini dapat menjadi catatan tentang bagaimana mana sejarah yang cukup indah dan penuh semangat tentang berdirinya masjid Syamsul Ulum.

Saya akan memulai kilas balik Masjid Syamsul Ulum dari organisasi kerohanian Islam STTTelkom.

Pada tahun 1991, beberapa mahasiswa STTTelkom yang rata-rata berusia 18-19 tahun berkumpul. Mungkin ada sekitar 15 mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah berkumpul, untuk menginisiasi terbentuknya organisasi kerohanian Islam STTTelkom.

Pertemuan tersebut digagas oleh Edwin Purwandesi, (TE STTTelkom 1991). Beberapa teman yang memiliki perhatian terhadap kegiatan kerohanian berkumpul di sebuah ruang kecil yang dijadikan mushalla di LT 1 Gedung Soilen Kampus STTTelkom Jl. Suci Bandung. Kita sekarang akan mendapati  gedung ini sekarang menjadi Pribadi International School.

Di ruangan berukuran sekitar 5×7 m2, dengan karpet berwarna hijau, beberapa mahasiswa ini bersepakat untuk membentuk kegiatan kerohanian Islam STTTelkom yang diberinama Sentra Kegiatan Islam (SKI) STTTelkom. Tidak banyak kegiatan awal yang dilaksanakan pada saat itu. Penyelenggaraan shalat Jumat, Buletin, Majalah Dinding, Kuliah Dluha, BM (Baitul Maal) serta penyelenggaraan hari besar keagamaan adalah kegiatan utama SKI STTTelkom pada saat itu.

Sebenarnya saat sebelum terbentuknya SKI STTelkom kegiatan kuliah dluha sudah berjalan. Kuliah dluha diselenggarakan setiap ahad pagi jam 06.00 pagi, di pelataran parkir belakang kampus, yang dihadiri oleh puluhan mahasiswa, dengan ceramah diisi oleh mahasiswa yang bersedia secara bergantian. Suasana kekeluargaan sangat terasa dalam aktivitas kuliah dluha ini. Mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah berbaur, mengenal satu sama lain. Saya masih ingat persis, Agus Riyono (TE 1991) asal Surakarta dengan gayanya yang khas dan lucu, yang lebih sering kebagian jatah untuk berceramah karena ilmu agamanya yang lebih baik dibanding kebanyakan mahasiswa.

Berselarasan dengan Kuliah Dluha, kegiatan perniagaan Baitul Maal juga berjalan pada saat kuliah dluha. Baitul Maal membuka lapak buku-buku, madu, parfum non alcohol yang tidak pernah sepi dikerubungi mahasiswa-mahasiswa yang masih polos-polos selesai penyelenggaraan kuliah dluha, Walaupun dalam kenyataannya transaksi pembelian yang terjadi juga sangat deikit –kalau dibilang tidak ada. Hehehe. Berbeda dengan mahasiswa sekarang yang berasal dari keluarga berpunya, saat itu sebahagian besar mahasiswa berasal dari keluarga pas-pasan, yang bahkan untuk bisa sekolah di STTTelkom, orang tuanya harus menjual sawah, kerbau atau sapinya.

Berjalan beberapa bulan, SKI STTTelkom berencana memperbaiki penyelenggaraan kuliah dluha agar lebih berdaya guna. Kebetulan saat itu, saya dipercaya teman-teman untuk mengelola kegiatan tersebut. Tentu tidak mudah menyelenggarakan kegiatan tanpa modal sepeserpun. Saya dan dua orang teman, berkunjung ke rumah Bapak Iwan Krisnadi untuk meminta nasehat tentang kegiatan tersebut. Bapak Iwan Krisnadi saat itu adalah Pembantu Ketua STTTelkom. Kami bercerita kepada beliau tentang rencana kami, serta keterbatasan-keterbatasan kami. Termasuk ketidaktersediaan anggaran. Beliau memberikan saran-saran yang membuka wawasan kami, serta menyatakan bersedia untuk menjadi penceramah kegiatan Kuliah Dluha tersebut tanpa perlu disiapkan amplop.

Dari saran-saran beliau, akhirnya saya dan beberapa teman urunan, untuk membuat proposal kegiatan, membuat poster kegiatan, serta membuat kotak amal (kencleng). Lalu kami menyusun tema-tema kuliah dluha selama 4 bulan, dan menghubungi penceramah untuk 4 bulan tersebut. Dalam poster ukuran A3, kami tampilkan jadwal ceramah selama  4 bulan tersebut, dan kami tempel di berbagai kampus serta di masjid-masjid sekitar jalan Suci. Kami juga mengajukan permohonan ke radio Kontinental FM (Sekarang menjadi K-Lite FM) untuk dapat mempublikasikan kegiatan ini.

Kepanitian juga kami susun seprofesional mungkin. Terdapat seksi untuk menjemput pembicara, Beberapa mahasiswa yang memang berasal dari keluarga menengah ke atas, menyediakan mobilnya untuk digunakan menjemput penceramah. Demikian pula tim penerima tamu, tim dokumentasi, serta perlengkapan.

Kami mengundang Ust Aam Amirudin, Lc, Aa Gym, dokter Rahman Maas, wartawan Pikiran Rakyat, (alm) Muslim Zaenuddin, untuk berceramah bukan hanya tentang agama secara ritual dalam kuliah dluha, Saat itu mereka belum seterkenal sekarang, sehingga mudah untuk mengundang untuk menjadi penceramah dalam kegiatan kuliah dluha yang kami berinama Kuliah Dluha di Kampus (KDK) STTTelkom.

Penceramah pertama yang kami undang adalah Ust, Aam Amiruddin, Lc. Beliau datang dengan menggunakan Honda civic biru buatan tahun 80. Karena tidak memiliki biaya sama sekali untuk memberi pengganti transport ke penceramah, kami memberikan tanda terima kasih rekaman kaset ceramah beliau yang kami berikan cover dengan setting yang cantik. Begitu juga dengan penceramah kedua, Dr. Iwan Krisnadi, sebagai salah satu ahli satelit Indonesia saat itu.

Pada minggu ketiga, kami sudah mendapatkan dana cukup dari kencleng serta penjualan kaset rekaman kuliah dluha. Sehingga bisa memberikan pengganti transport ke penceramah-penceramah berikutnya. Saya harus memberikan ucapan terimakasih yang besar kepada Ust Aam Amiruddin, Lc dan Dr. Iwan Krisnadi.

Dari minggu ke minggu hadirin kuliah dluha semakin banyak. Bukan hanya mahasiswa STTTelkom yang hadir, mahasiswa Itenas, ITB, YPKP, serta masyarakat umum hadir dalam kegiatan tersebut. Ruang aula yang sangat besar, penuh sesak setiap penyelenggaraan kuliah dluha, Bukan hanya itu, pedagang-pedagang juga berdatangan membuka lapak di halaman parkir. Sehingga lebih tampak seperti pasar tumpah.

***

Saat kampus STTTelkom pindah dari Jalan Suci ke Dayeuh Kolot, saat itu belum ada masjid atau mushalla yang dialokasikan untuk kegiatan kerohanian Islam. Sesuai master plan pembangunan Kampus, awalnya kami bermohon untuk menggunakan GSG kecil untuk penyelenggaraan kegiatan-kegiatan kerohanian. Namun permohonan tersebut tidak dapat dikabulkan, karena ruangan tersebut dialih fungsikan menjadi Perpustakaan. Oleh Ketua STTTelkom (Bapak Dr. Bambang Hidayat) kami diberi tempat di Gedung I sebagai mushalla. Kami member nama Gedung I ini sebagai Mushalla Ashabul Kahfi. Gedung I ini dalam desain kampus, sebenarnya diperuntukkan menjadi gedung Laundry.

Nama mushalla Ashabul Kahfi ini muncul dari ketua SKI saat itu Edwin Purwandesi. Beliau bercerita bagaimana beliau berharap mushalla tersebut dapat menjadi gua bagi pemuda-pemuda (mahasiswa) pencari Tuhan, ditengah kesibukannya yang tinggi dalam menuntut ilmu di STTTelkom.

Kegiatan-kegiatan kerohanian dilanjutkan di gedung ini. Kuliah Dluha di Kampus, juga terus berlanjut. Namun berbeda dengan di Kampus Suci yang dihadiri oleh banyak mahasiswa kampus lain dan masyarakat, di Dayeuh Kolot -karena lokasinya yang mungkin sulit dijangkau- hanya dihadiri oleh mahasiswa-mahasiswa STTTelkom. Pedagang-pedagang juga tidak datang seperti di Kampus Suci.

Selain Kuliah Dluha di Kampus, kegiatan yang sangat ditunggu-tunggu oleh para mahasiswa adalah Qiyamullail dan Muhasabah yang dipimpin oleh Ustadz Saiful Islam Mubarak, Lc. Mushalla Ashabul Kahfi selalu penuh ketika kegiatan muhasabah dilaksanakan pada dini hari. Taushiyah Ustadz Saiful Islam yang menyentuh, untaian bacaan al-Quran yang seperti sembilu, dirasakan sangat mengiris hati, menyebabkan para mahasiswa selalu menangis dalam kegiatan Muhasabah ini.

Kegiatan-kegiatan kesenian juga tumbuh dan berkembang di mushalla Ashabul Kahfi. Teater yang dikomandani Gunawan Edi (TE-1991) menyelenggarakan beberapa kali pertunjukan seni muslim. Dari Mushalla Ashabul Kahfi ini pula, SKI STTTelkom melahirkan kelompok nasyid Harmony Voice yang anggotanya Edwin Purwandesi, Amin Soebagyo, Eko Prihananto, Johni Purwantoro dan Ferry Zuljanna. Harmony Voice adalah kelompok nasyid kedua di Indonesia setelah Snada UI. Saat itu Harmony Voice sempat mengeluarkan album yang sangat baik direspon pasar. Undangan “manggung” dari berbagai tempat banyak berdatangan.

Kegiatan olah raga juga berkembang. Tifan Pokhan, bela diri beraliran kungfu dari Asia Tengah di selenggarakan di masjid dan diikuti oleh banyak mahasiswa.

Shalat Jumat di Mushalla Ashabul Kahfi punya karakter yang khas. Sebelum khatib naik mimbar, para mahasiswa umumnya sibuk dengan membaca quran sakunya dengan suara rendah. Namun dikarenakan banyak mahasiswa yang melakukannya, kita akan mendengarnya seperti suara sekumpulan lebah. Dalam sebuah kesempatan khutbah, Ustadz Mustafid Amna, pernah menyampaikan kekaguman dengan apa yang disaksikannya. Bukan hanya itu, selesai Jumatan kami meminta khatib untuk meluangkan waktunya, sekiranya ada jamaah yang ingin bertanya tentang materi khutbah yang disampaikan.

***

Sekitar tahun 1994, pada suatu Jumat, Direktur Utama PT Telkom –saat itu Bapak Setyanto P Sentosa- berkunjung ke Kampus STTTelkom. Beliau ikut shalat jumat bersama dengan mahasiswa di Masjid Ashabul Kahfi. Seperti biasa, mushalla ini sangat penuh sesak setiap shalat Jumat. Selesai shalat Jumat beliau berbicara dengan pengurus yang ada, dan melalui Ketua STTTelkom –saat itu Taufik Hasan- beliau meminta pengurus Rohani Islam untuk datang ke ruangannya bertemu dengan sekretarisnya Bapak Agus Utoyo.

Saya bersama Amin Soebagyo -Ketua SKI saat itu-, beserta beberapa teman yang lain, dengan mengendarai sepeda motor segera menuju Cisanggarung bertemu Bapak Agus Utoyo. Pak Agus Utoyo menyampaikan pesan dari Pak Setyanto P Sentosa tentang keinginannya untuk membantu pendirian masjid di Kampus. Selesai pertemuan dengan Pak Agus Utoyo, para pengurus SKI berkumpul rapat di rumah kos saya di Ciganitri. Dalam rapat tersebut, diputuskan Prasabri Pesti sebagai Ketua Panitian Pembangunan Masjid dan saya menjadi Sekretarisnya. Penunjukan Prasabri Pesti sebagai ketua, lebih dengan pertimbangan beliau mempunyai hubungan yang dekat dengan rektorat kampus, serta posisi beliau sebagai Ketua RW Asrama Kampus. Alhamdulillah, Prasabri Pesti bersedia ketika ditodong untuk menjadi Ketua Pembangunan Masjid.

Setelah terbentuk kepanitiaan, kami bertemu dengan pihak rektorat. Untuk mencari lokasi masjid. Kami diberikan beberapa alternative lokasi untuk menjadi masjid. Lokasi yang paling disarankan oleh pihak Rektorat adalah di Jalan Radio. Namun kami meminta lokasi di tempat masjid sekarang, dengan beberapa pertimbangan, dekat dengan asrama, dekat akses dari masyarakat, dan satu pertimbangan lain yang tidak terlalu penting, dekat dengan tendon air yang bentuknya sudah seperti menara masjid.

Awalnya usulan ini tidak disetujui, karena pihak rektorat sudah memiliki perencanaan untuk membangun fasilitas olah raga di lokasi tersebut. Namun dengan negosiasi yang cukup panjang akhirnya pihak rektorat setuju lokasi masjid di posisi tersebut.

Tahap pertama membangun masjid, yang kami lakukan adalah membangun suasana di kampus dan masyarakat sekitar tentang rencana pembangunan masjid ini. Poster-poster, pembuatan-pembuatan sticker, souvenir dilakukan untuk membangun suasana tersebut. Kami menginginkan agar masjid tidak dirasakan sebagai milik pengurus SKI dan panitia saja, tetapi dapat dirasakan menjadi milik warga kampus, bahkan menjadi milik masyarakat. Antusias para mahasiswa sangat tinggi untuk ikut serta membangun masjid, hal ini terlihat dari tingginya pembelian sticker dan souvenir yang dibuat panitia. Walau sangat tinggi namun kalau bicara nominal memang tidak seberapa pemasukan dari penjualan sticker dan souvenir ini. Dengan nada bercanda, beberapa teman berkomentar: “Butuh waktu berapa tahun nih, kalau masjid dikumpulkan dari dana penjualan sticker dan souvenir seperti ini?” Gusti Allah ora sare, Dia melihat usaha kami bukah hasil, dan Dia pula yang kelak akan menyediakan jalan-jalan-Nya.

Kami agak perlu berhati-hati dengan respon yang agak kurang positif dari pengurus masjid sekitar kampus. Kami dapat memahami hal ini, karena tentu ada kekuatiran keberadaan masjid kampus menyedot jamaah dari masjid-masjid seputar kampus. Kepada teman-teman mahasiswa yang aktif di seputar kampus, kami meminta bantuan untuk memberikan pengertian secara persuasif kepada para pengurus.

Disamping membangun suasana, kami juga bertemu dengan beberap arsitek untuk mendesain bentuk masjid yang diinginkan. Ivan Rinaldi (TE-1991) yang berjuang keras menghubungi arsitek-arsitek yang dikenalnya. Dengan cita-cita masjid akan dijadikan pusat kegiatan dakwah di Bandung Selatan, kami meminta arsitek untuk mendesain masjid dengan besar ruangan dengan referensi Masjid Salman dan Istiqamah. Dalam desain yang dibuat, selain masjid sebenarnya juga dibuat beberapa gedung, seperti gedung pendidikan, serta kegiatan seperti gedung kayu Masjid Salman.

Setelah arsitek selesai mendesain konsep masjid sesuai dengan beberapa kriteria yang kami minta, kami meminta mas Ircham Norman (arsitek ITB angkatan 1980) yang kebetulan kerabat seorang panitia untuk mengevaluasi desain tersebut. Beliau memberikan evaluasi atas desain yang dibuat. Karena seringnya kami bolak balik minta pendapat beliau, dalam kunjungan entah yang keberapa, beliau malah menyodorkan gambar yang beliau buat sendiri. “Kalau mau pakai gambar ini, saya sudah hitung secara masak aspek sipilnya”. Memang hal yang paling sulit dalam desain tersebut adalah kriteria kami meminta masjid tersebut tanpa tiang di tengahnya.

Setelah berembuk dengan tim panitia, akhirnya kami sepakat menggunakan gambar dari Mas Ircham. Lalu kami meminta mas Ircham untuk membantu membuatkan detil gambar dan RAB-nya. Beliau sama sekali tidak meminta bayaran atas desainnya. Beliau hanya meminta kami untuk menggaji pengawas lapangan yang ia tunjuk, untuk memastikan bahwa realisasi bangunan, sama dengan desain yang dibuatnya.

Akhirnya mas Ircham selesai mendesain detil bangunan masjid, serta rencana anggaran biaya pembangunan. Kami terhenyak dengan perkiraan anggaran yang dibutuhkan, yaitu sekitar Rp. 835 juta. Jumlah yang tidak pernah terbayangkan oleh mahasiswa seperti kami, yang setiap bulan hanya mengantongi uang rata-rata Rp. 150.000,- yang harus kami atur untuk hidup.

Kami menghadap kembali ke Pak Agus Utoyo, menjelaskan tentang kebutuhan dana yang dibutuhkan. Pak Setyanto P Sentosa, menyatakan bahwa Telkom siap mensupport dana sebesar Rp. 150 juta, dan meminta selebihnya untuk diupayakan mandiri. Setelah mengatakan demikian, mungkin Pak Setyanto berpikir sendiri, bagaimana mungkin mahasiswa dapat mengupayakan dana kekurangannya. Lalu melalui telepon, Pak Setyanto menghubungi PT Koprima (yang selanjutnya menjadi developer masjid) untuk membantu serta Pak Taufik Hasan, dan meminta Pak Taufik untuk membantu dana pembangunan masjid, dengan menghubungi perusahaan-perusahaan telekomunikasi di luar negeri.

Alhamdulillah, Allah Swt memberikan kemudahan. Setelah menghubungi beberapa kolega, Pak Taufik Hasan bercerita kepada kami, bahwa koleganya pemilik perusahaan telekomunikasi dari Malaysia, Tan Sri Syamsuddin memang sedang berencana membangun masjid. Kami diminta untuk segera mengirimkan proposal berbahasa Inggris.

Setelah kami kirimkan proposal tersebut, saya masih ingat harus pergi beberapa kali ke wartel Bojongsoang untuk menelpon ke Malaysia, menanyakan progress proposal kami dan memberikan penjelasan yang dibutuhkan. Tidak berapa lama kami mendapatkan konfirmasi yang sangat menggembirakan bahwa Tan Sri Syamsuddin bersedia untuk membantu kekurangan dana pembangunan masjid.

***

Pembangunan masjid dimulai dengan pemancangan tiang pertama yang diresmikan oleh Menteri Pendidikan, Bapak Wardiman Djojonegoro. Harapan seluruh mahasiswa untuk memiliki masjid kampus dan pusat kegiatan nampaknya akan segera terwujud.

Namun ditengah perjalanan, stabilitas ekonomi Indonesia yang terganggu menyebabkan harga-harga material meningkat tajam. Anggaran yang sebelumnya Rp. 835 juta berubah menjadi Rp. 1,2 M, sehingga yang dapat dibangun hanya bangunan masjidnya saja. Sementara bangunan pendukung seperti gedung pendidikan dan kegiatan, tidak bisa dibangun. Bekti Suprayitno, Bendahara Pembangunan Masjid, pusing tujuh keliling menghadapi situasi ini. Namun dengan tekanan Bapak Setyanto, developer tetap melanjutkan pembangunan dengan menalangi dahulu biaya pembangunan masjid.

Kami sangat menyadari bahwa tidak ada artinya masjid tanpa jamaah dan kegiatan. Kami sangat menyadari bahwa masjid ini tidak hanya diperuntukkan mahasiswa STTTelkom, tetapi juga harus menjadi milik masyarakat dan jika mungkin seluruh warga Bandung Selatan. Sehingga kegiatan membangun suasana “masjid milik bersama” terus kami lakukan.

Beberapa kegiatan seperti cerdas cermat agama antar SMA se bandung kami laksanakan. Kami berharap para pelajar SMA mau menganggap masjid ini sebagai masjid mereka juga. Melalui mahasiswa-mahasiswa yang aktif diseputar kampus, kami meminta anak-anak TPA untuk melakukan kegiatan-kegiatan di kampus, untuk mengenalkan sejak dini masjid kampus. Sehingga setiap hari ahad, kami melihat kumpulan anak-anak TPA dari berbagai masjid melaksanakan kegiatan, seperti berjalan seputar kampus, mentoring dan kegiatan-kegiatan lain yang mengasyikkan di seputar kampus.

Kami juga mengundang Dai Sejuta Umat, KH Zainuddin MZ untuk berceramah di kampus. Kami menyelenggarakannya di pelataran parkir samping kampus. Saat itu lingkungan kampus, lahan-lahan parkir penuh sesak dengan masyarakat yang ingin melihat dai sejuta umat, yang menyebabkan kegiatan perkuliahan berhenti.

Walaupun masjid dibangun oleh Developer, mahasiswa-mahasiswa tidak tinggal diam. Kami selalu melakukan kerja bakti, ikut membangun masjid. Hal ini sekali lagi dilakukan agar masjid bisa dirasakan menjadi milik semua orang. Saya teringat puluhan mahasiswa, bekerja bakti untuk memasang dan menggosok parquet masjid, agar mengkilat, serta membersihkan sisa-sisa bahan bangunan dan rumput. Mengharukan kalau ingat suasana waktu itu.

Setelah pembangunan masjid selesai, kami bertemu dengan Ketua MUI Jawa Barat, Totoh Abdul Fatah, untuk meminta nama masjid. Kami berpesan kepada beliau untuk memasukkan kata “Syamsuddin” untuk nama masjid tersebut. Beliau meminta waktu untuk memikirkan nama terbaik masjid.

Beberapa hari kemudian, kami datang lagi ke rumah beliau. Saat itu beliau memberikan dua  alternative nama. Syamsul Balaghah dan Syamsul Ulum. Setelah dilakukan musyawarah pengurus serta meminta pendapat ketua STTTelkom, akhirnya diputuskan masjid tersebut diberinama: “Syamsul Ulum” – Mentari Ilmu.

Semoga visi Syamsul Ulum untuk menjadi pusat dakwah Bandung Selatan tetap hidup dan berdiri kokoh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: