Sahabat Itu Tidak Lagi Bersama Kita

Tidak banyak yang mengenal sosok Wahyu Wibisono, mahasiswa STTTelkom Teknik Elektro 1991. Seorang yang sangat sederhana, pendiam, dan sedikit bicara. Saya tidak terlalu dekat dengan beliau, tetapi kami saling mengenal satu sama lain. Tegur sapa, jabat tangan selalu kami lakukan saat bertemu. Terkadang saya ngobrol dengannya saat mampir ke kamar C106 Asrama Putra.

Seorang teman yang merupakan teman SMA nya bercerita bahwa Wahyu, berasal dari keluarga ekonomi sulit. Cita-citanya sederhana, ia ingin menjadi kenek bus antar kota selepas SMA. Karena ia sadar sepenuhnya orang tuanya tidak akan mampu membiayai sekolahnya, bahkan kalau lulus Perguruan Tinggi Negeri. Beberapa buku tulisnya diisi dengan gambar-gambar bus antar kota coretan tangannya.

Ia bukan hanya pintar tetapi sangat cerdas. Saat mahasiswa berkutat dengan text book belajar, menurut teman satu kost dan asramanya ia jarang sekali memagang text book. Pulang dari kuliah, waktunya dipenuhi untuk mengajari teman-teman yang bertanya tentang kuliah yang baru saja di lewati atau kuliah lain yang tidak dimengerti. Seakan-akan saat kuliah, materi yang disampaikan oleh dosen langsung terinstall dengan sempurna di kepalanya.

Di tengah jarangnya pegang text book, seorang kawan yang lain bercerita kepada saya, bahwa sebelum membaca buku, Wahyu biasanya melakukan shalat sunnah 2 rakaat dahulu, baru dilanjutkan membaca. Mengingatkan saya dengan seorang ulama besar, Hujjatul Islam Imam al Ghazali yang dikisahkan selalu melakukan shalat sunnah sebelum memulai menuliskan bukunya.

Yang saya kagumi dari beliau bukan hal tersebut. Tetapi lebih dari itu semua, adalah ketulusan beliau.

Beliau adalah satu dari beberapa orang yang melakukan kebaikan-kebaikan secara sederhana, dan seakan tidak merasa perlu diketahui orang. Tidak banyak yang tahu, bahwa ia selalu menyempatkan diri menyapu -kadang mengepel- masjid, pagi hari, sebelum azan subuh. Ia juga malam-malam yang datang ke masjid beberes, sebelum mematikan lampu dan mengunci pintu masjid.

Sebuah pekerjaan remeh dan rendah yang tidak dilakukan pada umumnya mahasiswa, dia lakukan tanpa pernah diketahui mahasiswa lain. Kita hanya mengetahui, masjid selalu bersih dan rapih, tanpa pernah bertanya-tanya, siapa yang membersihkannya.

Awal tahun 2000-an saya mendapat kabar dari seorang kawan, Wahyu meninggal dunia karena gagal ginjal. Meninggalkan seorang istri dan anak. Teman-teman mengatakan bahwa ia tidak bersama kita lagi, namun saya akan berkata: “Mungkin ia ada di tengah-tengah kita, namun kita tidak menyadarinya“.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: