Kajian QS 5:77-78

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.

(QS 5:72-73)

Al-Maidah adalah kisah zaman Isa as ketika sahabat-sahabat dekatnya meminta hidangan dari langit. Kisah ini adalah kisah yang besar saat itu, namun sekarang tidak. Karena besarnya kisah ini maka dalam Islam, kisah tersebut didokumentasikan menjadi surat.

Sekarang ini khazanah kisah permintaan hidangan dari langit ini kita tidak temukan dalam kristiani. Karena dimungkinkan adanya perbedaan-perbedaan issue antara Kristen zaman ini dengan pada zaman Rasulullah Saw.

Sama juga seperti Yahudi. Pada zaman Rasulullah, issue tentang Ashhabul Kahfi, Dzulqarnain juga mengemuka. Sehingga untuk menguji ke rasulan Muhammad, orang Yahudi bertanya tentang tersebut, sebagaimana dijelaskan dalam QS Al Kahfi. Namun saat ini dalam perjanjian lama, kita tidak mendapatkan kajian tersebut.

Perubahan issue-issue tersebut tidak terlepas dari sejarah Kristen.

Umat Kristen dahulu pernah mengalami penganiayaan yang luar biasa berat dari Bangsa Romawi. Karena dahulu agama Kristen ini dilarang, sampai akhirnya pada zaman Konstantin memberlakukan Dekrit Milan tahun 315M, dimana umat Kristen diberikan kebebasan melaksanakan ajaran agamanya.

Dekrit Milan ini dikeluarkan Konstantinus sebagai ungkapan terimakasih kepada Tuhan umat Kristen. Karena setelah perang besar melawan Maxentius yang dimenangkan oleh Konstantinus, ia yang merupakan pemuja Dewa Mithra (dewa perang Bangsa Persia) melihat saat terbenam matahari di atas matahari ada lambang Salib. Sehingga ia kemudian berpikir bahwa kemenangannya karena ditolong oleh Tuhan Umat Kristen.

Sejak dikeluarkan Dekrit Milan tersebut umat Kristen tidak disiksa lagi oleh orang-orang Romawi. Bahkan selanjutnya Konstantinus menjadi pemeluk agama Kristen.

Setelah itu dalam agama Kristen perbedaan-perbedaan pandangan ideologis kembali mengemuka. Yang paling besar adalah perbedaan pandangan (mazhab) antara Arius vs Anthanasius. Arius berpendapat bahwa Isa atau Jesus bukan Tuhan. Tetapi seorang rasul yang diciptakan Tuhan,Sementara Anthanasius berpendapat sebaliknya, Isa atau Jesus adalah Tuhan.

Pendapat Arius ini yang dikenal dengan Arianisme atau selanjutnya unitarianisme. Sedangkan pendapat Anthanasius ini yang dikenal dengan Trinitarian.

Perbedaan pendapat ini saat itu menjadi konflik yang besar. Sehingga untuk menyelesaikan konflik tersebut dilakukan 4 kali Konsili. Kita membahas 2 konsili saja yang terkait dengan kajian ayat ini yaitu Konsili Nicea dan Konsili Konstantin.

Dalam Konsili Nicea 325M pendapat Anthanasius dominan. Sehingga akhirnya ditetapkan bahwa Jesus adalah sehakikat dengan Tuhan. Sedangkan dalam Konsili Konstantin 381M ditetapkan bahwa Roh Kudus sehakikat dengan Tuhan. Dari Konsili-konsili inilah selanjutnya pandangan Trinitarian yang mendominasi sampai sekarang. Seakan-akan tidak ada pendapat lain saat ini.

Namun bagi seorang pencari sejati, kelak akan menemukan Kebenaran tersebut. Hal ini sebagaimana yang terjadi pada Isac Newton. Dalam proses yang sangat panjang akhirnya ia menyimpulkan bahwa Tuhan adalah tunggal dan Yesus adalah ciptaan dan utusannya. Sehingga Newton dikenal sebagai penganut Arianisme. Demikian pula banyak terjadi pada founding fathers Amerika.

Ayat ini bagi kita umat Islam bukan untuk mengkafir-kafirkan umat Kristen yang berpandangan trinitarian. Tetapi ayat ini berisi sebuah peringatan agar kita tidak taklid kepada sesuatu yang dianggap dominan sebagai sebuah kebenaran.

Kita harus benar-benar menggunakan seluruh daya upaya kita untuk menembus pendapat-pendapat yang boleh jadi dianggap benar oleh sebagian besar ulama atau pemeluk Islam. Jangan terperangkap pada waham.

Kita tidak bisa mengikuti begitu saja pendapat-pendapat ulama zaman dahulu. Karena berbeda antara zaman dahulu dengan zaman sekarang. Zaman sekarang dengan zaman 100 tahun lagi.

Al-Quran memetakan sejak bumi diciptakan sampai berakhir. Maknanya akan dibukakan sesuai dengan perubahan zamannya. Jadi mustahil ulama zaman dahulu memahami masalah zaman ini. Sehingga diutus mujadid setiap 100 tahun.

Ketika kita berpegang dengan sangat fanatik kepada pendapat ulama dahulu, padahal pada titik tersebut sekarang berubah cara pandangnya kita akan terbelenggu sebagaimana yang disampaikan dalam ayat ini.

Wallahualam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: